CIAMIS – Seluas 120 hektare lahan pertanian di Desa Cijulang, Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis, terancam gagal panen akibat tidak teraliri air irigasi.
Kondisi itu, sudah berlangusng dalam beberapa tahun terakhir. Petani setempat hanya mengandalkan air hujan atau sawah tadah hujan untuk menghidupi tanaman yang mereka tanam. “Saat ini, rata-rata petani sedang menanam padi. Karena sudah beberapa kali mengalami gagal panen,” kata Kepala Desa Cijulang Jejen Taupik, Sabtu (28/5/2011).
Jejen menjelaskan, petani tahun ini tidak mau mengalmi lagi gagal panen. Untuk itu, mereka mendesak pihak desa untuk mencari solusi menyampaikan persoalan ini kepada pemerintah. Menurut Jejen, karena mengandalakan tadah hujan, sawah-sawah disini akan kekeringan jika dalam satu minggu tidak turun hujan. “Sekarang, sudah tiga hari tidak turun hujan saja kondisi tanah sudah retak-retak, tanaman seperti padi pun mulai layu,” beber Jejen.
Menurut Jejen, selain mengandalkan air hujan yang turun dari langit, warga sempat berupaya dengan membuat aliran terowongan air dari kaki gunung sawal. Namun, upaya tersebut gagal karena sumber air di dalam terowongan tidak tersedia dalam jumlah banyak. Saat hijan tidak turun lebih dari satu minggu, tetap saja sumber air mengering.
Padahal saat air tersedia sepanjang tahun, lanjut Jejen, petani setempat bisa melakukan panen hingga tiga kali. Namun, saat air mengandalkan hujan turun seperti ini paling bagus panen dalam satu kali setahun itupun hasilnya tidak maksimal. “Lebih parah lagi, kalau musim hujan tidak menentu begini setahun bisa jadi tidak pernah mengalami panen. Termasuk untuk musim ini, kondisi lahan sudah mengkhawatirkan dan terancam gagal panen,” sebut Jejen.
Camat Cihaurbeuti Sahlan membenarkan, kondisi lahan pertanian yang ada di Desa Cijulang setiap tahun belum bisa diolah secara efektif karena kondisi geografis dan ketersediaan air tidak memungkinkan. “Sebagai upaya, dalam pekan ini tim BPPT sudah melajkukan survei. Petani setempat mengharapkan ada alat khusus yang bisa menyedot air dari sungai Citanduy ke lahan mereka. Alat ini sedang diupayakan BPPT, namun belum bisa dipastikan,” tandas Sahlan.
Ketua Kelompok Tani Cijulang Suherman, 57, mengatakan, pihaknya sangat berharap penyediaan alat hydran bisa menjadi solusi bagi 300 petani di sini, karena selama ini semua mengeluhkan tidak bisa efektif mengelola lahan pertanian karena tidak ada ketersediaan air. “Berdasarkan pengalaman dari 120 hektare ini, ada sekitar 57 hektare lahan yang kondisinya snagat rawan. Tidak hujan tiga hari saja, lahan kritis khusus 57 hektare itu pasti sudha kekeringan,” kata Suherman.
(Dadan Muhammad Ramdan)