JAKARTA – Nasib polisi perbatasan di Pulau Salura Kecamatan Karera, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, sungguh memprihatinkan. Selain mendapat fasilitas minim, simbol penting seperti bendera merah putih pun nampak lusuh, meski tetap dikibarkan seolah menantang kencangnya hembusan angin pantai.
Walaupun demikian, para polisi perbatasan tetap berusaha tegar dengan segala keterbatasan yang ada. Mereka tetap ikhlas dan waspada menjaga kedaulatan negara di pulau yang hanya berjarak 800 mil laut dari Australia ini. Ketabahan itu kerap mendapat cobaan sulit, seperti tunjangan polisi perbatasan yang tak pernah mereka terima.
Yang tersusah adalah ketika mereka harus menyaksikan kapal berbendera negara asing mencuri ikan dari laut Indonesia tanpa bisa berbuat apa-apa. Warga sekitar mengaku kerap melihat kapal berbendera Taiwan dan Australia wara-wiri di wilayah Indonesia guna mengambil ikan.
Jangankan untuk mengejar dan menertibkan para penjagal laut yang menggerogoti kekayaan laut NKRI dengan kapal patroli misalnya, untuk memberikan tembakan peringatan saja para polisi ini harus disibukan dengan sering ngadatnya senjata yang dimiliki aparat pos perbatasan. Dua senjata laras panjang yang telah berusia uzur lebih sering macet sehingga lebih layak menghuni museum. Untuk mengoperasikan senjata ini perlu kesabaran ekstra dari aparat yang bertugas.
Keprihatinan tak hanya sampai disini, terbatasnya ruangan pada pos polisi juga menjadi kendala, sehingga sebanyak 14 orang anggota pos polisi perbatasan tak bisa terus menetap di pos penjagaan. Untuk menyiasatinya, mereka terpaksa membagi dua kelompok jaga dalam sebulan agar terus bergantian menjaga wilayah perbatasan selama 2 minggu. Bahkan untuk membuang hajat, anggota pospol harus menumpang di rumah warga karena belum adanya bangunan WC di pospol ini.
Sementara itu, menurut salah satu anggota pos polisi, Bripda Abdul hakim, bila ada imigran gelap yang melewati daerah perbatasan, mereka hanya bisa berusaha mengejar dengan perahu motor pinjaman dari nelayan setempat. Namun bila tak ada bahan bakar pada perahu motor nelayan tersebut mereka hanya bisa melihat dan melepaskan tembak peringatan.
Meski dengan fasilitas dan tunjangan yang minim, ketabahan dan pengharapan aparat pos polisi perbatasan ini tak pernah luntur untuk terus menjaga keutuhan dan kedaulatan NKRI di Pulau Salura, Pulau Kotak dan Pulau Mengkudu serta perairan laut yang menjadi areal tugas mereka. Para polisi berharap dapat dibekali dengan kapal patroli dan kelengakapan senjata yang memadai.
(Insaf Albert Tarigan)