BANDUNG- Bayi dempet atau kembar siam Wanda-Wandi, akan menjalani operasi pemisahan setelah Lebaran atau antara September dan Oktober 2011.
Saat ini, bayi kembar siam yang sejak September 2010 lalu dirawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Jawa Barat, usianya hampir setahun.
“Wanda-Wandi umurnya sudah 303 hari, hampir setahun. Dalam waktu dekat akan kita lakukan tindakan operasi. Menurut medis, keduanya akan siap dioperasi jika telah mencapai usia satu tahun,” jelas Direktur Utama RSHS Bayu Wahyudi, Jumat (26/8/2011).
Wanda-Wandi lahir pada 20 September 2010 dari pasangan Dede Amung Sunarya (21) dan Lina Mawarti (20) warga Kampung Cijagra RT 13/05, Desa Ciroyom, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Bayu melanjutkan, saat ini kesehatan si kembar sudah membaik dan memungkinkan untuk operasi. “Berat badannya sudah 14.700 gram lebih,” sebutnya.
Menurutnya, operasi akan dilakukan tim dokter yang terdiri dari 20 orang lebih. Tim operasi terdiri dari dokter anak, nutrisionis, psikiatri, patologi klinis, bedah digestif, dan bedah anak.
“Total lebih dari 20 dokter. Semuanya terintegrasi, tim kerja saat operasi sampai dia tumbuh pasca-operasi,” paparnya.
Operasi pemisahan menelan biaya amat mahal. “Misalnya untuk menyediakan ventilator saja harganya Rp500 juta, belum lagi inkubator, dan peralatan labolatorium lainnya. “Dari segi tim kita siapkan dokter ahli,” tandasnya.
Karena biaya operasi sangat mahal, Bayu mengajak masyarakat untuk berbuat baik kepada sesama. Terlebih bayi kembar lahir dari keluarga tidak mampu.
“Jadi saya harap masyarakat Jabar, khususnya mau sedekah. Jika semua tertumpu kepada RSHS tentu akan tertaih-tatih, tapi kalau semuanya beramal, tidak akan susah,” ungkapnya.
Bayu menyarankan, masyarakat yang mampu dan ingin menyumbang bisa datang langsung ke Kantor Humas RSHS yang menerima dompet peduli Wanda-Wandi.
Wanda dan Wandi lahir dengan kondisi badan menempel pada bagian dada dan perut. Diafragma, usus halus, dan hatinya pun dempet. Selama ini, biaya perawatan Wanda-Wandi ditanggung Jamkes RSHS dan Kartu Keluarga Miskin (Gakin).
(Kemas Irawan Nurrachman)