Kisah Penjual Lampu Minyak di era Listrik

Mukhtar Bagus, Jurnalis
Kamis 27 Oktober 2011 21:18 WIB
Nur Salim tengah menjajakan lampu teplok (Foto: Mukhtar B/Sindo TV)
Share :

NGANJUK- Nur Salim harus jalan ber puluh puluh kilometer hanya untuk menjajahkan dagangannya. Usianya yang sudah 79 tahun, tidak menyurutkan pria tua ini untuk tetap menjual lampu minyak.

Meski pun dia tahu, barang dagangannya hanya mampu dijual beberapa unit saja. Pasalnya, lampu minyak miliknya hanya bisa digunakan masyarakat kala listrik sedang mati.

Nur Salim mengaku, sudah berjualan lampu teplok itu selama 60 tahun. Dia pun menjelaskan, keuntungannya yang didapatnya tidak banyak. Karena harga yang ditawarkan pun mulai Rp10-50 ribu tiap unitnya.

Warga Desa Sukorejo, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, ini beralasan sengaja tetap menekuni profesi ini karena sudah menjadi pekerjaannya sejak kecil. Bahkan saat di desa dan mayoritas desa di Kabupaten Nganjuk masih belum ada listrik.

Meski pekerjaannya terbilang sangat berat dan setiap hari harus jalan kaki hingga lebih dari 20 kilometer, ternyata lampu teplok Nur Salim belum tentu laku terjual.

Dalam sehari, lanjut Nur, dia hanya dapat menjual 2 atau 3 buah lampu teplok namun terkadang dalam sehari tidak dapat terjual sama sekali. Bahkan karena sudah puluhan tahun memikul keranjang yang berisi puluhan lampu teplok, bahu Nur Salim sampai menghitam (gosong).

Seiring dengan gencarnya sosialisasi sekaligus pemerataan penggunaan listrik hingga ke pelosok-pelosok desa terpencil, Nur Salim mengaku ruang gerak pemasaran lampu teploknya memang semakin sempit dan sulit.

Meski demikian, Nur Salim tidak menganggap meratanya penggunaan listrik tersebut sebagai ancaman, karena baginya lampu teplok kini sudah dianggap barang antik dan yakin lampu teplok ada penggemarnya.

(Kemas Irawan Nurrachman)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya