SOLO - Keluarga Keraton Kasunanan Surakarta menanggapi dingin penobatkan Pakubuwono (PB) X sebagai salah satu penerima gelar Pahlawan Nasional.
Salah seorang putri Pakubuwono XII, GKR Wandansari, mengatakan sudah seharusnya Pemerintah memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada leluhurnya. Tidak bisa dipungkiri jasa PB X terkait berdirinya NKRI.
“Sudah sewajarnya Negara menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada leluhur kami. Adanya Negara ini tidak lepas andil leluhur kami. Kecuali, Pemerintah sudah tidak mengakui keberadaan Keraton, itu suatu pertanda kehancuran Negara ini,” jelas GKR Wandansari atau biasa dipanggil Gusti Mung, Rabu (9/11/2011).
Menurut Gusti Mung, PB X sudah empat kali diajukan sebagai Pahlawan Nasional sejak empat tahun terakhir.
Dia menilai, pengakuan Negara kepada para pejuang kemerdekaan para raja keraton Solo tidak cukup dengan memberikan gelar, namun dengan memperbaiki makam PB X di Astana Imogiri Yogyakarta. Pasalnya, lanjut dia, pascagempa pada 2006 hingga kini makam PB X masih rusak.
“Tidak cukup dengan gelar Pahlawan. Makam Pakubuwono X di Imogiri yang rusak akibat gempa segera diperbaiki. Bukannya kami tidak kuat untuk memperbaiki, itukan sebagai wujud perhatian Negara pada leluhur kami. Tidak hanya memberi gelar,” ungkap anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat ini.
Gelar untuk PB X diserahkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara Selasa kemarin. Gelar diserahkan kepada cucu PB X Mooryati Soedibyo.
Menurut Mooryati, ada lima alasan yang membuat PB X pantas menerima gelar pahlawan, yakni aktif dalam perjuangan pergerakan nasional, pelopor pembangunan sosial-ekonomi, pendidikan rakyat, pembentukan jati diri bangsa, dan integrasi nasional.
(Dian AF)