Bung Karno Jatuh Cinta dengan Batik Buatan Go Tik Swan

Bramantyo, Jurnalis
Jum'at 11 November 2011 02:00 WIB
(Foto:batikidku)
Share :

SURAKARTA- Selain Sri Susuhunan Pakubuwana X yang dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional, satu lagi putra terbaik dari kota Bengawan juga mendapatkan penghargaan Bintang Budaya Parama Dharma dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Dia adalah Go Tik Swan (KRT Hardjonagoro), pelopor Batik Indonesia. Motif Batik Indonesia muncul setelah almarhum Go Tik Swan diminta oleh Presiden Soekarno sekitar tahun 1960-an untuk membuat motif Batik Indonesia yang berbeda dengan motif batik Solo ataupun Yogyakarta dan daerah lainnya.

“Saat itu Bung Karno jatuh cinta dengan batik buatan Go Tik Swan dan Bung Karno meminta langsung kepada Go Tik Swan untuk membuat batik bermotif Indonesia berbeda dengan batik corak Solo,Yogyakarta atau Pekalongan. Mendapatkan perintah langsung dari Presiden pertama, Go Tik Swan langsung membuat motif batik Indonesia asli pertama. Motif Batik Indonesia ini lebih berwarna cerah bukan hanya coklat, biru dan putih seperti batik Solo dan Yogyakarta,” jelas ahli waris Go Tik Swan, KRA Hardjosoewarno di kediaman Go Tik Swan, Dalem Harjonegaran Solo, Kamis (10/11/2011).

Go Tik Swan semasa hidupnya telah menciptakan lebih dari 200-an motif batik. Pria kelahiran Solo, 11 Mei 1931 tersebut selain dikenal sebagai pelopor Batik Indonesia juga dikenal sebagai budayawan.

Bahkan selama hidupnya, Go Tik Swan, dikenal sebagai kolektor barang-barang antik peninggalan purbakala termasuk arca-arca kuno.

“Batik karyanya banyak yang menjadi koleksi museum-museum di Eropa, Amerika, Australia, dan kolektor batik. Bahkan beberapa tokoh nasional seperti Megawati,  Fauzi Bowo, serta Harmoko merupakan pengagum karya Go Tik Swan ,” katanya.

Beberapa motif batik yang diciptakan Go Tik Swan antara lain Sawunggaling, Kuntul Melayang, Sedebyah serta Parang Anggrek. Tidak hanya itu, dirinya juga sempat menciptakan motif batik khusus untuk mantan Presiden Megawati Sukarnoputri. Motif batik tersebut diberinama Parang Megakusumo.

Saat ini, ahli waris Go Tik Swan, Siti Supiyah Anggriyani mencoba untuk menggali kembali motif-motof batik hasil karya Go Tik Swan. Untuk menjaga motif tetap bernilai tinggi, pihaknya tidak memproduksi secara missal batik karya pelopor Batik Indonesia tersebut.
 
“Batik ini memang berbeda dengan batik solo atau batik daerah lainnya. Membuatnya membutuhkan waktu empat hingga lima bulan. Tak heran, bila kami hanya memproduksi 12 kain saja,” jelasnya.

(Stefanus Yugo Hindarto)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya