Potensi Teror Masih Mengancam di 2012

Dede Suryana, Jurnalis
Rabu 14 Desember 2011 14:19 WIB
Ilustrasi
Share :

JAKARTA - Meski banyak pentolan teroris sudah berhasil dibekuk, potensi teror masih mengancam Indonesia di 2012 mendatang. Penyebabnya, antara lain bibit-bibit radikalisme yang masih tumbuh subur serta penanganannya yang kurang menyentuh akar persoalan.

Menurut Ketua ormas Lazuardi Birru, Dhyah Madya Ruth SN, indeks radikalisme di Indonesia tahun ini memang cenderung menurun, namun di sisi lain bibit radikalisme masih cukup tinggi potensinya.

Indeks kerentanan radikalisme di Indonesia pada 2011 mencapai 43,6 persen, menurun 1,44 persen dari tahun sebelumnya. Angka ini, kata Dhyah, masih jauh di bawah tingkat aman yaitu pada level 33,3 persen. Indeks radikalisme ini diperoleh dari hasil penelitian kerentanan radikalisme di 33 provinsi.

Ancaman radikalisme dan terorisme ini tidak hanya dalam bentuk aksi-aksi teror dan peledakan bom. Yang harus lebih mendapat perhatian, kata dia adalah self radicalism dan penyebaran ideologi radikalisme di kalangan generasi muda. Hal ini bisa diselesaikan dengan kearifan lokal, karena berdasarkan penelitian kami, radikalisme di masing-masing daerah memiliki karakteristik, akar permasalahan, dan trigger yang berbeda-beda.

“Terlebih terdapat trend konservatisme yang menguat, hal ini tentunya berpotensi menjadi tempat persemaian radical extrimist ideology. Generasi muda merupakan salah satu komponen yang harus diperkuat dan memiliki daya tahan yang tinggi atas berbagai upaya infiltrasi radical extrimist ideology di Indonesia,” jelasnya dalam keterangan persnya, Rabu (14/12/2011).

Langkah lain untuk menanggulangi potensi terorisme ini, lanjut dia, adalah komunitas-komunitas keagamaan harus selalu bersinergi dan waspada atas aktivitas organisasi radikal yang memanfaatkan masyarakat, terutama lembaga-lembaga keagamaan atau tempat peribadatan sebagai wadah untuk berkonsolidasi.

Dhyah juga mengimbau semua elemen ikut menyelesaikan berbagai persoalan radikalisme hingga ke akar-akarnya yaitu pemahaman yang salah akan suatu ajaran tertentu. "Pencegahan radikalisme dan terorisme tidak bisa dibebankan kepada pemerintan saja,” pintanya.

Sementara itu Deputi Bidang Penindakan Badan Nasional Penang gulangan Terorism (BNPT) Petrus Reinhard Golose mengatakan, tren radikalisme dan terorisme mulai bertransformasi pada semua lini kehidupan. Karena itu masyarakat diminta untuk lebih waspada dan peduli terhadap indikasi dan kecenderungan gerakan teror.

(Dede Suryana)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya