JAKARTA- Ketua Umum Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Wiranto menilai Pemerintah saat ini terkena penyakit lupa. Wiranto pun sangat menyayangkan hal itu.
"Lupa bahwa mereka dipilih rakyat maka dia abdi rakyat, lupa bahwa mereka diberi mandat oleh rakyat maka seharusnya mereka bekerja untuk rakyat. Lupa bahwa mereka mewakili hak politik rakyat, maka seharusnya membela kepentingan rakyat," ujar Wiranto dalam pidato HUT Hanura ke-5 di Hotel Sahid Jakarta, Rabu (21/12/2011).
Selain itu, sambung Wiranto pemerintah saat ini justru berperilaku sebagai raja di tengah rakyat yang memprihatinkan. Jabatan yang diemban dianggap sebagai milik pribadi dan dimanfaatkan sebesar-sebesarnya keuntungan diri, keluarga dan kelompoknya.
"Telah terjadi pengingkaran terhadap kepercayaan rakyat yang memilihnya. Terjadi pengkhianatan terhadap rakyat dan konstitusi yang telah memberi mandat kepadanya," tutur Wiranto.
Wiranto menambahkan saat ini belum ada perubahan signifikan yang telah dilakukan pemerintah. Dia mencontohkan masih maraknya korupsi merajalela bagaikan wabah yang menggulung kehidupan sebagai bangsa, hukum tidak lagi mampu menghadirkan rasa aman tatkala terjadi transaksi dan intervensi dalam memperoleh keadilan, dan kebohongan publik serta penyalahgunaan kewenangan sudah menjadi hal yang biasa.
Melihat kondisi demikian, Wiranto meminta kepada para pemimpin yang tengah menjabat agar sadar dan menggunakan hati nurani memberi contoh yang baik dengan melepaskan jabatan pengurus partai politik yang tengah disandang.
"Mereka itu dipilih dan diangkat, diberi otoritas dan fasilitas untuk mengurus rakyat dan bukan mengurus partai. Jabatan rangkap eksekutif mengurusi rakyat sambil mengurus itulah yang memberi perluang terbangunya sarang koruptor dalam lingkup jabatannya," tandasnya.
(Stefanus Yugo Hindarto)