JAKARTA - The Wahid Institute menganalisis, 2011 adalah tahun terburuk jaminan kebebasan beragama dan toleransi di Indonesia selama pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Hal ini terbukti dari meningkatnya jumlah kasus pelanggaran dan intoleransi.
"Secara kualitas, pelanggaran kebebasan beragama dan tindak intoleransi tahun ini termasuk sangat berat karena mengakibatkan tiga warga Ahmadiyah meninggal dan melukai belasan orang lain akibat tindak kekerasan atas nama agama," ucap Koordinator Program The Wahid Institue, Rumadi di Kantor The Hawid Institute, Matraman, Jakarta Timur, Kamis (29/12/2011).
Terjadinya peningkatan jumlah pelanggaran, kata Rumadi, dikarenakan pemerintah semakin tidak tegas dalam penegakan hukum terutama kepada ormas pro kekerasan.
"Alih-alih melakukan penegakan hukum, aparat keamanan justru melakukan kriminalisasi terhadap korban pelanggaran disatu sisi dan melakukan pembiaran terhadap pelaku kekerasan," tambahnya.
Kata Rumadi, peningkatan ini juga terjadi karena pemerintah lebih sibuk dengan politik pencitraan dan mencari aman ketimbang komitmen terhadap hukum. "Pemerintah tidak berani bersikap tegas terhadap para pelaku intoleransi agama karena tidak ingin dianggap melawan kelompok mainstream agama tertentu," lanjutnya.
Pemerintah, kata Rumadi, bahkan tidak berani menindak Ormas yang secara terang-terangan mengancam akan menggulingkan pemerintahan SBY meskipun muncul desakan berbagai kalangan untuk membubarkan ormas tersebut karena terbukti banyak melakukan tindakan kekerasan dan ancaman makar.
(Muhammad Saifullah )