JAKARTA – Politikus Partai Kebangkitan Bangsa Lily Chotijah Wahid menyesalkan besarnya alokasi anggaran renovasi Istana Kepresidenan senilai Rp21,9 miliar. Anggaran ini menunjukkan keborosan pemerintah mengelola keuangan.
”Saya termasuk orang yang tidak setuju dengan alokasi mendekati 70 % untuk penyelenggaraan pemerintahan,” ujar Lily kepada okezone, Kamis (19/1/2012) malam.
Bagi Lily anggaran renovasi itu sia-sia karena hanya ditujukan untuk menunjang kemewahan pemerintah. “Karena sudah membayangkan terjadinya penghamburan uang rakyat untuk kemewahan kantor-kantor pemerintah, baik eksekutif, legislatif ataupun yudikatif,” kata dia.
Hal senada juga dikatakan Ketua Umum Partai NasDem Patrice Rio Capella. Penghamburan duit itu, kata Patrice mencerminkan hilangnya keteladanan pemimpin dalam upaya memprioritaskan rakyat.
“Satu hal yang kurang dipemimpin kita adalah keteladanan, ini yang semakin jauh dan mulai hilang,” jelasnya.
Padahal kata Patrice, dibandingkan menghamburkan dana rakyat demi membangun kantor lebih baik dialihkan pada kebutuhan yang lebih mendasar untuk rakyat.
“Sebenarnya banyak hal-hal yang mendasar yang perlu dilakukan untuk rakyat, misalnya perbaikan seluruh sekolah yang rusak, dan menambah fasilitas sekolah dan Puskesmas di daerah terpencil, infrastruktur yang sangat minim didaerah-daerah yang sangat dibutuhkan rakyat kita,” terangnya.
Berdasarkan data dari RABPP 2012 Lampiran 4 BA007 yang diolah Sekretariat Nasional Forum Indonesia Untuk Transparansi Anggaran (Seknas FITRA), alokasi anggaran sederet program renovasi bangunan di Kementerian Sekretariat Negara dan Istana untuk tahun 2012 mencapai Rp80,48 miliar. (bah)
(Ferdinan)