Perluas Akses Kerja Bagi Warga Disable

Margaret Puspitarini, Jurnalis
Senin 30 Januari 2012 16:15 WIB
Ilustrasi : Corbis
Share :

JAKARTA - Keterbatasan secara fisik maupun perilaku bagi warga disable terkadang menghalangi kesempatan mereka untuk berkarya di berbagai bidang. Salah satunya adalah kesempatan dalam memperoleh pekerjaan.

Salah satu pengalaman nyata adalah yang dialami Angkie Yudistia. Seorang wanita tuna rungu penyandang titel S-2 di bidang marketing communication namun berkali-kali ditolak bekerja karena tidak bisa menerima telepon.

Berdasarkan pengalaman Angkie tersebut, Deputy Director and Migrant Human Rights Coordinator at Asian Migrant Centre Hong Kong Lily Purba mengungkapkan, setiap perusahaan hendaknya memberikan kesempatan bagi orang disable untuk bekerja di segala bidang.

"Setiap perusahaan sebenarnya berkewajiban untuk memberikan kesempatan bagi orang disable untuk bekerja di segala bidang. Misalnya, jika seseorang tidak bisa menerima telepon, ya bisa ditempatkan di bagian lain sesuai dengan kemampuannya," kata Lily kepada okezone selepas acara talk show yang memperingati Hari Kusta se-Dunia di Kampus Anggrek Universitas Bina Nusantara (Binus) Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Senin (30/1/2012).

Dia mencontohkan, kantornya mempekerjakan pegawai yang tidak mempunyai tangan. "Secara logika, orang mungkin berpikir, jika tidak punya tangan, bagaimana dia dapat bekerja? Namun, berbekal keuletannya bekerja menggunakan kaki untuk memindahkan buku serta pencatatan, kami pun mempekerjakannya di bagian perpustakaan," ujarnya menjelaskan.

Menurut Lily, hal penting yang harus diingat, adalah bagaimana terciptanya simbiosis mutualisme antara kedua belah pihak, baik orang disable sebagai karyawan maupun perusahaan tersebut. "Jadi harus ada take and give. Perusahaan mendapatkan untung dengan kinerja karyawan disable yang cekatan dan orang disable tersebut mendapat pekerjaan. Namun, jika orang disable ini tidak memiliki kemampuan, perusahaan akan sulit untuk mempekerjakannya," tutur Lily.

Lily mengatakan, banyaknya warga disable yang memiliki kemampuan yang tidak kalah dengan masyarakat normal namun hanya bekerja sebagai tukang pijat disebabkan karena perusahaan tidak dapat bersabar serta membuka kesempatan bagi warga disable.

"Coba lihat Angkie. Keterbatasannya dalam pendengaran membuat dia tidak dapat menerima telepon. Namun, kemampuannya untuk bernegosiasi serta bidang kehumasan, seharusnya menjadi daya tarik bagi perusahaan. Jika perusahaan semakin membuka diri, maka kesempatan kerja bagi warga disable semakin luas, tidak sekadar menjadi tukang pijat," katanya.(mrg)

(Rani Hardjanti)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya