JAKARTA - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komas HAM) segera menyelidiki bentrokan di Desa Batangkumuh, Kecamatan Tambusai, Kabupaten Rokanhulu, Provinsi Riau. Lembaga itu akan mengirimkan tim untuk mengusut jatuhnya korban karena ditembak aparat terkait konflik lahan disana, pekan depan.
"Komnas HAM akan menyelidiki kesana untuk mencari data dan memastikan jumlah korban serta melihat bagaimana pertanggung jawaban pelaku. Kami pastikan minggu depan sudah ke sana," kata Ketua Komnas HAM, Ifdhal Kasim, saat dihubungi di Jakarta, Minggu (5/2/2012).
Ifdhal mengatakan, tujuan pengiriman Sub Komisi Penyelidikan Komnas HAM untuk mencari tahu penembakan oleh aparat sesuai prosedur atau tidak. Hasilnya, akan diketahui apakah penembakan terhadap warga disana dalam keadaan membahayakan atau tidak. "Tapi, kalau rakyat cuma mengacung-ngacungkan senjata tidak diperlukan menembak," ujar Ifdhal.
Menurut dia, meskipun aparat membayar biaya pengobatan, tindakan tersebut tidak serta merta menghapuskan pertanggung jawabannya. Atasan yang bersangkutan wajib mengusut anggotanya yang terlibat penembakan tersebut. "Biaya pengobatan itu hanya tindakan moral saja. Aparat tidak bisa sembarangan menembak orang yang bawa senjata tajam," imbuh dia.
Selain mengusut penembakan, Komnas HAM juga meminta keterangan pihak perusahaan. Dengan demikian, penyelesaian konflik tersebut diharapkan dapat menyentuh akar persoalannya. Ifdhal membenarkan bahwa pihaknya pernah menerima laporan warga Batangkumuh, Riau, karena sengketa lahan di sana. "Masalah pokoknya akan kami cari juga," sebutnya.
Sebelumnya, sebanyak lima orang dikabarkan tertembak di Desa Batangkumuh, Kecamatan Tambusai, Kabupaten Rokanhulu, Provinsi Riau, Kamis (2/2/2012) lalu. Para korban yang sebagian besar petani itu diantaranya, Osmar Sihombing (30), Franky Dolok Pasaribu (30), Nomos Sihombing (34), Johanes Sitorus (35), dan Ranto Sirait (27).
Kejadian berawal saat PT Mazuma Agro Indonesia (MAI), perusahaan kelapa sawit, mendatangkan alat berat hendak menggusur ladang warga. Mengetahui hal itu, sontak warga melawannya. Akhirnya, perselisihan antara warga dengan Pam Swakarsa perusahaan tak terhindarkan. Entah bagaimana, tiba-tiba aparat yang mengawal penggusuran tersebut melepaskan tembakan.
(Insaf Albert Tarigan)