SULSEL - Bagi sebagian besar petani, tikus merupakan musuh bebuyutan karena menjadi hama utama di areal sawah siap panen. Namun hal itu tidak berlaku bagi Anas (40) petani asal Kecamatan Cempa, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan ini.
Anas berhasil mengolah bangkai tikus menjadi pupuk kompos cair. Atas idenya tersebut dirinya pun dijuluki oleh kalangan petani setempat dengan istilah professor tikus.
Berawal dari banyaknya sawah petani di Kecamatan Cempa, Pinrang, Sulawesi Selatan diserang hama tikus, Anas mencoba mencari jalan keluar untuk masalah tersebut. Jika selama ini dia menangkap tikus dan bangkainya dibuang begitu saja, namun sejak 2005 dia berhasil memanfaatkan dan mengolah bangkai tikus menjadi pupuk kompos cair.
Tikus yang berhasil ditangkap dengan menggunakan jebakan dimasukkan ke dalam sebuah drum yang berisi air. Tikus-tikus yang telah mati kemudian ditampung di sebuah bak untuk melalui proses fermentasi dengan tujuan menghasilkan cairan yang bisa langsung digunakan sebagai pupuk. Sejak menggunakan pupuk kompos dari bangkai tikus Anas bahkan bisa menghemat 50 persen penggunaan pupuk kimia.
Penemuan tersebut dia dapatkan secara otodidak. Awalnya dia mempelajari perilaku hidup tikus yang selalu jadi musuh utama petani. Dari keingintahuannya tersebut Anas mulai membuat perangkap tikus yang didesainnya sendiri kemudian dipasang di beberapa titik pada areal sawah miliknya. Tikus-tikus tangkapan yang telah dipukul mati dia tumpuk dan dibiarkan begitu saja tapi setelah dia perhatikan ternyata tanah pembuangan bangkai tikus itu terlihat jauh lebih subur.
Meski belum ada hasil penelitian lebih lanjut dari Dinas Pertanian setempat terhadap temuan Anas tersebut, namun beberapa peneliti tikus baik lokal, nasional bahkan internasional kerap berdatangan ke Kecamatan Cempa Pinrang untuk melihat langsung dan mempelajari metode pembutan pupuk dari bangkai tikus tersebut. (sus)
(Ahmad Dani)