DENPASAR - KA, korban penganiayaan di Denpasar, Bali, dikenal pendiam dan rajin membantu bibinya membuat kue dan makanan untuk dijual.
Remaja berusia 16 tahun itu ternyata sudah putus sekolah sejak kelas 5 SD karena alasan ekonomi. Dia juga sudah lama ditinggal ibunya. Sementara ayahnya menikah lagi dengan perempuan lain
Sutrani (42), bibi korban, mengungkapkan sejak ibunya meninggal, KA banyak berubah. Dia seperti anak yang kehilangan kasih sayang. Ayahnya kerap memarahinya karena itu dia lebih dekat dengan bibinya.
KA tinggal bersama Sutrani di Jalan Sidakarya, Gang Taman Bali 12, Sesetan, Denpasar.
Sutrani baru mengetahui kejadian ini setelah ramai diberitakan. Dia mengaku tidak curiga dengan keponakannya. Apalagi di rumah, KA dikenal pendiam dan sangat jarang menceritakan masalah pribadi.
”Selama ini dia tidak pernah cerita. Baru kemarin saja dia bilang habis dikeroyok,” kata perempuan asal Banyuwangi, Jawa Timur itu.
Perihal keterlibatan keponakannya di geng motor pun sama sekali tidak diketahuinya. “Saya baru tahu dia ikut geng motor. Kadang dia bersama teman-temannya pergi tapi itu kan biasa, namanya anak muda,” ujarnya.
Dia berharap pelaku kekerasan diproses hukum dan pelaku mendapat ganjaran setimpal.
(Dian AF)