Kisruh di tubuh Partai Demokrat (PD) tidak juga mereda. Justru makin memanas. Setelah Mantan Bendahara Umum Demokrat Muhammad Nazaruddin berhasil ditangkap dari pelariannya, kini kasus korupsi Wisma Atlet mulai terungkap satu-per-satu. Wakil Sekjen Demokrat Angelina Sondakh, secara resmi telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum Demokrat, juga mulai disebut-sebut dalam persidangan di Pengadilan Tipikor, karena diduga menerima dana dari proyek pembangunan Wisma Atlet.
Dalam konteks ini, rupanya Skandal Wisma Atlet semakin terbuka bagi publik. Citra Demokrat pun semakin rusak karena kasus tersebut yang terus bergulir. Dampaknya publik mencium bau busuk dalam tubuh Demokrat. Mayoritas publik (62,6%), kini mengetahui skandal korupsi yang disebut kasus Wisma Atlet. Mayoritas publik percaya (57,8%) Nazarudin, tidak bekerja sendirian dalam kasus korupsi itu. Sementara itu, hanya minoritas publik (19,9%) yang percaya petinggi Demokrat bertindak tegas dalam mengatasi skandal ini.
Akibatnya publik menghukum Demokrat. Kini untuk pertama kalinya sejak tahun 2009, Demokrat tergeser ke posisi nomor tiga di bawah Golkar dan PDIP. Demikianlah salah satu temuan survei yang dilakukan oleh Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pada tanggal 21 Januari–2 Febuari 2012. Survei dilakukan dengan jumlah responden sebanyak 1.200. Metode yang digunakan adalah standard multi-stage random sampling. Wawancara dilakukan dengan tatap muka, sehingga mencakup seluruh populasi dan margin of error sebesar plus-minus 2,9%.
Efek Elektoral
Telah dua kali LSI melakukan survei terkait dengan kisruh yang terjadi dalam tubuh PD. Survei pertama dilakukan pada bulan Juni 2011, ketika kasus suap Sekretaris Kementrian Pemuda dan Olah Raga (Sesmenpora) sedang ramai diberitakan media massa. Dalam survei tersebut ditemukan bahwa sebanyak 41% pemilih Indonesia mendengar kasus korupsi di Kepmenpora. Tak kurang dari 45,3% percaya Petinggi PD terlibat. Sejumlah 42,4% pemilih menyatakan kasus itu mempengaruhi pilihan mereka terhadap partai politik. Untuk pertama kali sejak pemilu 2009, Demokrat digeser Golkar dalam urutan satu dukungan pemilih untuk partai politik. Suara Demokrat turun suaranya dari 20,85% pada pemilu 2009 menjadi 15,5% pada Juni 2011 dan Golkar naik suaranya dari 14,45% pada pemilu 2009 menjadi 17,9% pada Juni 2011.
Survei kedua sebagaimana yang telah disinggung di atas, dilakukan LSI pada tanggal 21 Januari–2 Febuari 2012, sehari sebelum Angelina Sondakh ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK (3 Februari 2012) dalam kasus korupsi Wisma Atlet Sea Games. Dalam survei tersebut ditemukan mayoritas publik (62,6%), kini mengetahui skandal korupsi yang disebut kasus Wisma Atlet. Mayoritas publik percaya (57,8%) Nazarudin, mantan Bendahara Umum Demokrat, tidak bekerja sendirian dalam kasus korupsi itu. Sementara itu, hanya minoritas publik (19,9%) yang percaya petinggi Demokrat bertindak tegas dalam mengatasi skandal ini.
Dilihat dari dua kali survei LSI tersebut diketahui semakin banyak publik yang percaya bahwa Nazarudin tidak bekerja sendirian. Publik meyakini petinggi Demokrat lain terlibat. Jika di bulan Juni 2011, hanya 45,3 persen saja yang meyakini petinggi Demokrat berperan serta. Kini (21 Januari–2 Febuari 2012) meningkat menjadi 57,8% publik yang meyakini petinggi lain dari Demokrat terlibat.
Jika dipecah persentase penilaian publik yang menduga para petinggi Demokrat terlibat, maka setidaknya muncul lima nama berikut. Pertama, sebanyak 52,1% publik percaya Nazarudin terlibat. Kedua, sebanyak 39,4% publik meyakini Anas Urbaningrum, terlibat. Ketiga, sebanyak 31,9% menilai Menpora Andi Malarangeng juga berperan. Dugaan yang sama juga ditimpakan kepada dua petinggi Demokrat lainnya, seperti Angie (37,2%) dan Mirwan Amir (28,3%).
Dengan berbagai persepsi negatif publik di atas, maka Demokrat terus semakin mendapat tekanan dari publik dan ini ternyata berdampak pada efek elektoral yang menurunkan raihan suara Demokrat secara signifikan. Dari survei LSI pada 21 Januari–2 Febuari 2012, Demokrat kini menempati posisi nomor 3 dengan raihan suara 13,7%, di bawah Golkar dengan 18,9% dan PDIP dengan 14,2%. Jika dibandingkan pada pemilu 2009 dan Juni 2011, raihan suara Demokrat terus menurun pada 21 Januari–2 Febuari 2012: dari peringkat pertama (20,85%) pada pemilu 2009, ke peringkat kedua (15,5%) pada Juni 2011 dan ke peringkat ketiga (13,7%) pada 21 Januari–2 Febuari 2012.
Implikasi
Dengan efek elektoral yang demikian, dimana raihan suara Demokrat terus menurun, maka terdapat beberapa implikasi buruk yang mungkin akan menimpa Demokrat. Pertama, dengan ditetapkannya Angie sebagai tersangka oleh KPK, maka dugaan publik tentang adanya petinggi lain Demokrat yang terlibat selain Nazaruddin dalam kasus korupsi Wisma Atlet adalah benar. Ini tentunya akan berakibat pada semakin rusaknya citra Demokrat dimata publik, mengingat Angie adalah salah satu tokoh yang dijadikan ikon dalam iklan kampanye politik Demokrat dengan slogan “Katakan Tidak Pada Korupsi.”
Kedua, ada kemungkinan Angie tidak akan mau dikorbankan sendirian dalam kasus ini. Dengan ditetapkan dan ditangkapnya Angie, maka KPK dapat menjadikan Angie sebagai pintu masuk untuk dapat membuka/menelusuri keterlibatan tokoh-tokoh Demokrat lainnya, termasuk nama-nama penting yang selama ini dilansir publik seperti Anas Urbaningrum, Andi Mallarangeng, dan Mirwan Amir.
Ketiga, adalah isu tentang adanya perpecahan di tubuh Demokrat terkait dengan gencarnya beberapa elite Demokrat yang meminta Anas untuk mundur sebagai Ketum. Meskipun Ketua Dewan Pembina Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam pidatonya di Puri Cikeas, Bogor, pada 5 Februari lalu, telah membantah akan dilakukan penonaktifan terhadap Anas sebagai Ketua Umum Demokrat. Namun, pernyataan dari beberapa elite Demokrat pada beberapa waktu lalu seperti Ruhut Sitompul yang menghendaki Anas mundur makin menguatkan dugaan terdapatnya perpecahan di tubuh Demokrat.
Dengan sejumlah implikasi di atas, sepertinya akan sulit bagi Demokrat untuk dapat melakukan recovery. Karena Demokrat akan disibukkan untuk mengurusi kekisruhan internal partainya sendiri. Dengan begitu dapat dikatakan, bukan tidak mungkin ini adalah akhir dari Demokrat sebagai partai papan atas seperti yang pernah diraihnya pada pemilu 2009 lalu. Dan bukan tidak mungkin juga Golkar akan kembali menjadi partai utama pada 2014 nanti, seperti yang pernah diraihnya pada pemilu 2004. Ini bisa jadi karena di samping mendapat limpahan suara yang hilang dari Demokrat, program “Bersama Bangkitkan Usaha Kecil, dari Aceh sampai Papua” yang dibuat Golkar juga menambah dukungan. Jika ini yang terjadi, maka Demokrat akan kembali ke khitahnya seperti di tahun 2004, hanya akan menjadi partai papan tengah saja.
Asrudin
Penulis ada peneliti di Lingkaran Survei Indonesia Grup
(M Budi Santosa)