SOLO - Psikolog anak, Seto Mulyadi menyatakan gejala stres anak kini meningkat. Bahkan, tingkat stres rentan berujung pada bunuh diri.
“Adanya contoh-contoh yang muncul pada televisi, entah itu berita atau film dan sebagainya, ditambah lagi sekarang ini banyak anak yang mengalami stress baik karena tekanan dari orang tua, sekolah atau lingkungannya. Stres yang dialami anak itu memicu tindakan bunuh diri,” jelas Kak Seto di Solo, Jawa Tengah, Minggu (12/2/2012).
Kak Seto mengatakan dirinya pernah mendapat laporan tentang kasus bunuh diri yang dilakukan bocah berusia lima tahun. “Itulah satu contoh anak yang sudah tidak kuat lagi dan trauma terhadap berbagai kekerasan yang dialaminya sehingga dia melakukan bunuh diri,” ungkapnya.
Karena itu, dia meminta orang tua tidak melakukan kekerasan kepada anak. “Karena kekerasan memicu stress pada anak, sehingga anak kemudian mengambil jalan pintas dengan melakukan bunuh diri,” jelasnya.
Lebih lanjut Kak Seto memberi gambaran tentang anak yang stress kemudian perlu diwaspadai tindakan bunuh diri. Perubahan sikap anak seperti murung dan memilih menyendiri dari lingkungan, lanjut Kak Seto wajib diwaspadai orang tua.
“Jangan dimarahi. Sebab jika makin disudutkan maka si anak akan makin menyendiri, dan sebagainya. Justru kalau ada gejala itu, kita sebagai orang tua mesti peka,” tandasnya.
(Ferdinan)