JAKARTA- Gerakan mahasiswa di Indonesia saat ini masih lebih memanfaatkan zaman dan rawan ditunggangi kepentingan partai politik. Sebab itu, gerakan mahasiswa perlu mencari format reposisi yang ideal dan konstruktif.
"Kini kalau mau reposisi, mahasiswa harus bergerak. Kebanyakan mahasiswa saat sekarang ini lebih memanfaatkan zaman, bukan menjadi perubahan," ujar politikus PDIP. Shahganda Nainggolan, di Jakarta, Rabu (29/2/2012).
Sedangkan, Ketua DPP PAN Bima Arya Sugiarto mengatakan, perubahan gerakan mahasiswa dari dulu hingga sekarang berbeda.
"Tahun 66 itu perubahan politik, dan aspek sosial. Banyak instrumen tertentu dalam partai politik. Partai politik masih mandul sekarang, karena tidak bisa menjalankan fungsi roda kemasyarakatan," ujarnya.
Menurutnya, saat ini partai politik belum bisa menjalankan fungsinya. Serta menjalankan amanah rakyat. "Walaupun saya orang partai tapi mesti jujur mengatakan itu. Dalam mencari format reposisi gerakan, ada tiga hal yang pertama struktural, kultur, dan aktor. Ketiga itu mesti dijalankan," tandasnya.
Sementara itu, Koordinator BEM Batavia Raya Rahmat Soleh menambahkan, gerakan mahasiswa di era modren ini harus membangun mindset baru yaitu dengan cara mengubah pola pikir serta membangun wawasan yang luas agar gerakan tersebut lebih ideal serta konstruktif sehingga ada solusi yang di tawarkan oleh mahasiswa.
"Apalagi posisi mahasiswa sebagai agent of change bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Dalam membangun gerakan, mahasiswa sebelum bergerak harus mampu merasakan kegelisahan masyarakat sehingga gerakan tersebut tidak ditunggangi oleh kekuatan politik praktis," paparnya.
(Stefanus Yugo Hindarto)