JAKARTA – Gedung DPR, Mei 2012 ini akan dilengkapi dengan finger print (absensi elektronik). Upaya itu tetap dilakukan untuk mengontrol keaktifan anggota dewan di DPR, meski dengan alat yang relatif murah.
Bila rencana sebelumnya, DPR akan memakai sistem visitor management mencapai Rp1 miliar, dan dinilai terlalu mahal, maka diputuskan absensinya hanya menggunakan sidik jari saja.
“Rencananya memang menggunakan absensi CCTV, tapi karena terlalu mahal Rp1 miliar. Maka, kita putuskan enggak ada CCTV, ini hanya sidik jari saja,” kata Soemirat, Kepala Biro Pemeliharaan Pembangunan dan Instalasi, kepada wartawan di DPR, Jumat (9/3/2012).
Selanjutnya, untuk menentukan berapa jumlah finger print yang bakal dipasang, pengelola baru akan menghitung terlebih dahulu sesuai kebutuhan.
"Tadi malam sudah dibicarakan spesifikasinya dan sistemnya, nanti kita susun anggaran. Sesuai kesepakatan bulan Mei, finger print harus dipasang," ujarnya kepada wartawan di DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (09/03/2012).
Menurut Soemirat, dana untuk pengadaan ini dianggarkan sebesar kurang lebih Rp300 juta. Ini berkurang banyak dari dana yang diajukan sebelumnya yang mencapai 1 miliar.
"Baru mau dihitung, sederhana, Rp500 juta enggak nyampe. Kira-kira Rp300 juta sekian. Tapi mau dihitung detail kebutuhan supaya nggak salah hitung, supaya nggak salah anggarannya. Setelah itu kan masuk ke dokumen lelang," tambahnya.
Pada kesempatan tersebut, lebih lanjut Soemirat menjelaskan bahwa biaya pengadaan finger print ini bisa ditekan dengan menghilangkan rencana pengadaan CCTV.
(Amril Amarullah)