JAKARTA - Politikus Partai Demokrat, Nova Riyanti Yusuf menilai, wawasan tentang pra, saat, dan recovery pasca bencana, serta pentingnya disaster harm reduction sangat dibutuhkan masyarakat Indonesia. Mengingat, Indonesia merupakan Negara yang rawan bencana.
“Pendidikan formal dalam kurikulum sejak usia dini dan outreach kepada masyarakat tentang hal ikhwal pra, saat, dan pasca bencana, harus gencar dilaksanakan. Juga perlunya didirikan Institut seperti Disaster Reduction and Human Renovation Institute seperti di Kobe bahkan National Center of Neurology and Psychiatry seperti di Tokyo,” kata dia melalui rilisnya kepada okezone, Jum’at (16/3/2012).
Menurut dia, bencana alam gempa bumi sangat lumrah terjadi di Jepang dan juga di Indonesia dengan variasi bencana alamnya dari mulai gempa bumi, tsunami, gunung meletus, dan lainnya. Dia semakin yakin tentang perlunya pemahaman masyarakat Indonesia dalam kondisi saat bencana.
Pada 2010, dia mengaku pernah mengkonsepkan kalakarya on-the-job-training PFA (psychological first aid) bersama psikiater senior untuk bencana alam merapi. Ide ini, kemudian dipresentasikan dalam rakornas tanggap merapi kepada Kepala BNPB, Samsul Maarif, membuahkan hasil berupa pelatihan PFA kepada 400 perawat dari lima rumah sakit jiwa di Jawa Tengah (fase tanggap darurat).
Materi yang diberikan adalah mendidik tenaga lokal sehingga mereka lebih paham kondisi psikologis masyarakat lokal. Upaya ini kata anggota Komisi IX DPR ini, sifatnya promotif dan akan bermanfaat dalam "disaster harm reduction" atau mengurangi dampak psikologis akibat bencana alam.
Namun secara masif, dibutuhkan RUU kesehatan jiwa yang akan juga melindungi dampak bencana alam terhadap psikologi manusia dan aspek-aspek integral yang terkait.
“Di Jepang, penelitian tentang bencana alam juga saya saksikan di National Center of Neurology and Psychiatry. Kondisi kejiwaan pasca bencana kerap terabaikan karena aspek-aspek lain dianggap lebih urgent dan penting. Namun saya yakin jika manusia semakin terpapar bencana alam dan perubahan iklim, sudah saatnya proses adaptasi "mindset" dan perilaku manusia dirubah,” tukasnya.
(Muhammad Saifullah )