Miskomunikasi, Warga Batal Salat Jumat

Rohmat, Jurnalis
Jum'at 23 Maret 2012 20:27 WIB
Ilustrasi orang salat (Dok okezone)
Share :

DENPASAR- Sejumlah warga batal melaksanakan salat jumat setelah terjadi miskomunikasi dengan pecalang atau penjaga desa adapt. Mereka dinilai melanggar ketentuan saat hari raya Nyepi.

Beberapa orang yang terpaksa batal salat Jumat dan kembali ke rumah adalah mereka yang tinggal di sekitar perbatasan Kuta-Denpasar serta  beberapa warga di Kerobokan, Kuta Utara, Kabupaten Badung.

Kejadiannya bermula saat mereka menyeberang Jalan Imam Bonjol menuju musala di sekitar Kantor Balai Latihan Kerja (BLK).

"Sebenarnya kejadian itu hanya miskomunikasi saja, belum ada pemahaman yang sama di bawah," ujar kata Ketua MUI Kota Denpasar KH Musthofa Al Amin dihubungi, Jumat (23/3/2012).

Padahal ada permakluman, warga yang salat Jumat saat Nyepi seyogyanya di wilayah terdekat. Atau jika terpaksa ke banjar lain, harus ada pengantar atau laporan dari banjarnya.

Dia menduga, masih ada persepsi sesuai ketentuan Nyepi, bahwa warga dilarang ke luar ke jalan atau melewati wilayah banjar lain, kecuali ada pengantar banjar tempat tinggalnya dengan alasan kuat.

"Mungkin warga yang tinggal di sana tidak memahami Ketentuan tersebut. Ya ini untuk bahan evaluasi ke depan agar tidak terulang lagi," harap dia.

Karena itu, usai Nyepi pihaknya akan mencoba mengomunikasikan hal itu dengan desa adat atau pihak terkait lainnya, agar tidak terjadi kesalahpahaman.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Denpasar Ida Bagus Wiana juga mengaku mendengar hal itu.

"Pada umumnya mereka itu pendatang baru yang belum pernah Nyepi di Bali, sehingga tidak memahami seruan bersama terkait Nyepi," kata Wiana dihubungi terpisah.

Bisa jadi, mereka berjalan terlalu jauh satu sampai dua kilometer dan melewati batas wilayah padahal saat pelaksanaan Nyepi, sehingga dihentikan pecalang.

Wiana meyakini, jika warga yang telah lama tinggal di Denpasar, sudah memahami isi seruan bersama dan selama ini salat Jumat berjalan baik-baik saja dan lancar.

"Peristiwa seperti ini pernah terjadi tahun 2008 lalu, umumnya mereka pendatang baru, pecalang yang bertugas juga baru, sehingga tidak memahami seruan bersama dan terjadi miskomunikasi," tutupnya.

(Kemas Irawan Nurrachman)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya