JAKARTA- Aksi penolakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) oleh mahasiswa yang terjadi beberapa waktu lalu, tak jarang berujung dengan bentrok dengan aparat Kepolisian. Presiden Mahasiswa Al-Azhar Cik Nur mengaku menyesalkan aksi bentrokan antara mahasiswa dengan polisi.
“Gerakan Mahasiswa sudah seharusnya mendapat simpatik dan dukungan serta menghindari politik praktis dan mencerminkan sikap ketauladanan ditengah masyarakat, karena mahasiswa bergerak atas dasar kebutuhan dan kepentingan masyarakat,” katanya dalam pesan elektroniknya kepada okezone, Sabtu (7/4/2012).
Kami bukan bergerak atas dasar kepentingan kekuasaan, kami bukan kelompok politisi yang ingin rebut kekuasaan, kami menyangkan paska aksi penolakan BBM beberapa hari yang lalu. “Kami seakaan dihianati dan diperalatan pada kepentingan politik, kami terkesan diboncengi dan terbangun citra yang negative sebagai elemen mahasiswa yang berbuat kerusakan,” terangnya.
Sementara Ketua BEM Univesitas Islam Sumatera Utara Ari Sugara mengaku akan melakukan evaluasi terkait aksi yang dilakukan beberapa waktu lalu.
“Kita perlu mengevaluasi BEM yang tergabung dalam Konami, karena selama yang kami ketahui, banyak hal-hal kejanggalan yang kami temui dilapangan yang tidak sesuai lagi dengan apa yang dididiskusikan sebelumnya,” ungkap Ari.
Ari melanjutkan BEM yang ia pimpin dan berbagai BEM lainya mengatakan Konami sudah sejalan dan menyatakan keluar Konami.
“Gerakan kami yang mengatasnamakan Konami hadir ke Jakarta adalah merupakan kepentingan masyarakat, bukan pada kepentingan kekuasaan, kenaikan BBM merupakan hal yang bersinggungan dengan kepentingan masyarakat, bukan bermaksud menggulingkan rezim SBY-Boediono, terlalu jauh menurut kami,” tutupnya.
(K. Yudha Wirakusuma)