JAKARTA- Aburizal Bakrie akan diusung menjadi calon presiden tunggal dari Partai Golkar. Rencananya, pencalonan tersebut akan diresmikan lewat Rapat Pimpinan Khusus Juli 2012 mendatang.
Namun, pencalonan pria yang akrab disapa Ical tersebut tdiperkirakan tidak akan berjalan mulus. Pasalnya, sejumlah kader Partai berlambang pohon beringin menolak penetapan Ical sebagai calon presiden 2014.
Kritikan tajam terkait pencalonan Ical dilontarkan Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung. Menurut Akbar, Ical dan pengurus Golkar lainnya tidak pernah melakukan komunikasi kepada Dewan Pertimbangan Partai.
Mantan menteri pemuda dan olahraga era orde baru itu pun menyayangkan sikap pengurus pusat Golkar yang terburu-buru mencalonkan Ical. “Saya tak pernah diminta saran, seharusnya sesuai dengan anggaran rumah tangga partai Golkar setiap kebijakan strategis harus meminta saran dewan pertimbangan. Sampai hari ini saya tidak diminta,” kata Akbar Tandjung saat berbincang dengan Okezone, Minggu (22/4/2012) malam.
Akbar juga menampik tudingan yang menyatakan kritikannya kepada pengurus pusat partai dilatarbelakangi keinginannya untuk ikut mencalonkan diri sebagai Capres. “Sama sekali tidak, bukan soal itu,” kata Akbar.
Lebih lanjut, Akbar mengatakan, seharusnya Partai Golkar terlebih dahulu menyepakati tata cara atau mekanisme penetapan calon presiden.
“Mekanisme itu melibatkan stakeholder partai di seluruh jajaran Golkar, dan organisasi pendukung Golkar. Sebagai contoh, calon presiden dari Golkar tahun 2004 ditetapkan melalui konvensi. Orang mau persidangan saja dibahas bagaimana tata cara mekanisme. Ini kok tidak. Itu yang saya ingini, tetapkan dulu mekanismenya,” katanya.
Diakui Akbar, pada Rapimnas Oktober 2011, sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Partai, dia telah mewanti-wanti pengurus agar mempersiapkan penyuksesan Pemilu 2014. Salah satunya dengan menetapkan mekanisme pemilihan calon presiden partai Golkar. “Amanat itu tertuang dalam Catur Sukses, yaitu sukses konsilidasi, kaderisasi, pengembangan demokrasi, dan sukses pemilu 2014 baik legislatif maupun presiden,” katanya.
Bila penetapan capres telah disepakati, maka barulah partai bisa menentukan capres yang akan diusung. “Ketika 2004 kami melakukan konvensi secara, tujuannya agar masyarakat melihat bahwa partai Golkar adalah partai yang terbuka, dan konvensi itu baik untuk pembelajaran politik ke depan,” kata Akbar.
Kendati demikian, Akbar mengatakan, perbedaan pandangan terkait pencalonan Ical sebagai calon presiden adalah hal yang wajar di suatu partai. “Saya kira tidak pecah, perbedaan itu hal biasa,” kata mantan ketua umum partai Golkar itu. (ugo)
(Ahmad Dani)