SINGAPURA - Salah satu bekal yang perlu dimiliki para pengelola sekolah adalah mengetahui perkembangan terbaru tentang dunia pendidikan, baik secara nasional maupun dalam lingkup global.
Hal inilah yang dilakukan puluhan kepala sekolah dan pengelola yayasan dari berbagai daerah di Tanah Air peserta Executive Excursion Program 2012 besutan Binus University dan Acer. Pada seminar sehari kali ini, puluhan pendidik tersebut mengupdate pengetahuan mereka tentang dunia pendidikan di Indonesia dan tantangan-tantangan apa yang harus mereka hadapi di masa depan.
Rektor Binus University Harjanto Prabowo memaparkan, masalah utama yang dihadapi dunia pendidikan saat ini adalah adanya ketidaksinkronan (mismatch) antara sistem pendidikan dengan lingkungan sekitarnya. Harjanto menyoroti sedikitnya enam ketidaksinkronan dalam pendidikan Indonesia.
"Keenam hal itu adalah ketidaksinkronan pendidikan di sekolah dengan lingkungan sekitar, menjadikan Ujian Nasional (UN) sebagai fokus pendidikan nasional, standar pendidikan yang dipaksakan mengikuti standar global, internasionalisasi tanpa arah, kualitas pendidikan yang bukan ditujukan untuk pendidikan berkelanjutan, serta sekolah terjebak dalam mengoperasionalkan dan mengembangkan sekolah," kata Harjanto dalam seminar bertajuk Indonesia's Current Education Environtment and Future Challenges to be Faced di Hotel Furuma Riverfront, Singapura, Selasa (8/5/2012).
Poin pertama, kata Rektor, adalah tidak adanya penanaman nilai moral di sekolah, misalnya terlihat dari banyaknya kasus perkelahian antarsiswa. Sekolah juga hanya mengembangkan kemampuan otak kiri dan kemampuan logika berpikir, tetapi luput dengan pengembangan kemampuan otak kanan dalam hal logika mengambil keputusan.
Selain itu, imbuhnya, siswa juga hanya diajari sejarah, bukan belajar dari sejarah. Belum lagi stereotip anak pintar adalah yang masuk jurusan IPA yang masih berkembang di masyarakat.
Harjanto juga menyoroti Ujian Nasional (UN) yang dianggap segalanya dalam sistem pendidikan nasional (sisdiknas). Padahal, UN adalah bagian dari sistem evaluasi sekolah. "Menurut saya, tidak ada bedanya sekolah yang bagus dengan yang tidak bagus. Tapi UN menjadikan hal itu sangat penting," Harjanto mengimbuhkan.
Tidak jarang, tambahnya, sekolah memaksakan diri untuk menaikkan standar pendidikan hanya karena ada satu siswanya yang memenangi olimpiade sains. Ketimpangan ini berlaku juga pada penerapan RSBI, SBI, dan sekolah internasional (SI) yand diterapkan pemerintah. "Sekolah berlindung di balik bahasa asing, bukan justru menyejajarkan diri dengan sekolah asing," ujarnya tegas.
Dalam presentasi yang disampaikan dengan santai dan ringan ini, Harjanto juga mengkritik pengembangan kualitas pendidikan nasional yang bukan ditujukan untuk pendidikan berkelanjutan. Artinya, sekolah hanya mengejar agar siswanya menjadi pintar, lulus UN, dan melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi. Padahal, pendidikan berkualitas sejatinya mendidik anak agar mampu bersaing baik dalam lingkup nasional maupun global.
Ketidaksinkronan terakhir adalah sekolah terjebak antara tugas operasional dan pengembangan. Yang terjadi, kata Harjanto, adalah sekolah memiliki batasan yang kabur tentang sejauh mana independensi yang mereka miliki untuk mengelola sekolah. Belum lagi sisdiknas saat ini hanya menganggap siswa sebagai pelanggan.
"Seharusnya, yang memahami kondisi sekolahlah yang mengelola, bukan yang berkuasa," ujar Harjanto menegaskan.
Seminar sehari ini merupakan bagian dari kegiatan School Executive Excursion Program 2012 besutan Binus University dan Acer serta melibatkan puluhan kepala sekolah dan pengurus yayasan dari berbagai daerah di Tanah Air.
Pada kegiatan yang digelar 7-9 Mei di Singapura ini, para peserta akan mendapat banyak wawasan baru dalam bidang pendidikan dan perkembangan global. Peserta kegiatan mengikuti studi banding, kunjungan industri, serta seminar-seminar seputar teknologi dan perkembangan pendidikan global.
(Rani Hardjanti)