SINGAPURA - Poin pertama ketidaksinkronan (mismatch) di dunia pendidikan Indonesia adalah keadaan internal sekolah dengan lingkungan di sekitarnya.
Dalam seminar bertajuk Indonesia's Current Education Environtment and Future Challenges to be Faced, di Hotel Furuma Riverfront, Singapura, hari ini, Rektor Binus University Harjanto Wibowo memaparkan, ketidaksinkronan ini adalah yang pertama kali harus dihadapi sekolah. Dia mencontohkan, perkelahian antarsiswa bisa menjadi salah satu contoh ketidaksinkronan tersebut.
Harjanto mengimbuhkan, contoh lainnya terlihat dari tidak adanya korelasi nilai matematika yang tinggi dengan logika pengambilan keputusan. "Anak-anak hanya diajari kemampuan berpikir, mengembangkan otak kirinya. Tetapi sekolah lupa mengajari mereka untuk mengembangkan kemampuan otak kanan yang biasa dipakai untuk mengambil keputusan," kata Harjanto, Selasa (8/5/2012).
Dalam perihal sejarah, kata Harjanto, sejak sekolah dasar (SD) siswa hanya diajari untuk menghafal sejarah, tanpa diajari untuk belajar dari sejarah. "Misalnya, anak-anak hafal kapan perang Diponegoro, tetapi tidak mampu menyebutkan apa yang dapat mereka pelajari dari sosok Diponegoro," imbuhnya.
Di sisi lain, masyarakat juga masih terkurung stereotipe yang mengagung-agungkan kepintaran dalam bidang sains. Harjanto menuturkan, masyarakat masih memahami jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di sekolah menengah atas (SMA) adalah yang terbaik. Siswa-siswa yang masuk sekolah ini pun dianggap sebagai murid-murid pintar. Dan hal ini berlanjut hingga ke pemilihan jurusan ketika kuliah, mereka yang menempuh jurusan sainlah yang dianggap pintar.
"Padahal pintar bukan sebatas sains. Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) pun sama baiknya dengan IPA," kata Harjanto.
Ketidaksinkronan antara kondisi internal sekolah dengan lingkungan sekitar juga ditunjukkan dengan ikut repotnya para orangtua siswa dalam pendidikan anak-anaknya. Di rumah, Harjanto mencontohkan, para orangtua ikut sibuk mempersiapkan kebutuhan sekolah anaknya. "Mereka bahkan repot memastikan apakah si anak sudah mengerjakan tugas dari sekolah atau belum," ujarnya menandaskan.
Seminar sehari ini merupakan bagian dari kegiatan School Executive Excursion Program 2012 besutan Binus University dan Acer, serta melibatkan puluhan kepala sekolah dan pengurus yayasan dari berbagai daerah di Tanah Air. Dalam kegiatan yang digelar 7-9 Mei di Singapura ini, para peserta akan mendapat banyak wawasan baru dalam bidang pendidikan dan perkembangan global. Peserta kegiatan mengikuti studi banding, kunjungan industri, serta seminar-seminar seputar teknologi dan perkembangan pendidikan global.
(Rani Hardjanti)