JAKARTA - Anggaran Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres) tiap tahunnya mengalami peningakatan. Pada tahun 2011, alokasi anggaran Paspampres sebesar Rp31,6 miliar dan mengalami peningkatan sebesar Rp2,8 miliar pada tahun 2012 yaitu sebesar Rp34,4 miliar.
Namun, peningkatan anggaran tersebut tidak diimbangi dengan kerja Paspampres yang maksimal. Sebut saja, Paspampres penah kecolongan dengan adanya insiden tukang kebun yang nyelonong di depan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat menyaksikan akrobat udara di ajang ASEAN Fair 2011 di Nusa Dua, Bali, beberapa waktu lalu.
Tak hanya itu, seorang pria pun kedapatan membawa sabu-sabu di tengah kunjungan kerja Presiden di Jambi pada 10 Februari 2012 lalu.
Dan beberapa hari lalu, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Demokrat yang tak lain putra bungsu Presiden SBY, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) nyaris dihajar massa di Bandara Sultan Babullah Ternate, Maluku Utara.
Menurut Kordinator Investigasi dan Advokasi FITRA, Uchok Sky Khadafi, anggaran meningkat tidak menjamin kerja Paspampres maksimal.
"Ternayata anggaran gemuk, tidak menjamin kerja yang bagus," tuturnya kepada Okezone, Sabtu (26/5/2012).
Hal itu, sambung Uchok, menunjukan bahwa intelijen Paspampres tak maksimal berjalan. Seharusnya peristiwa tersebut sudah dapat terdeteksi lebih dini sebelum kejadian terjadi.
"Maka itu, seharusnya intelijen Paspampres sudah mendeteksi lebih dini," tuturnya.
(TB Ardi Januar)