JAKARTA - Lama tak terdengar kabarnya, mantan Komandan Paspampres, Nono
Sampono, diberitakan masuk bursa calon Gubernur pada Pilkada Maluku yang akan digelar pada pertengahan tahun ini. Ia diminta banyak kalangan di Maluku untuk
tampil sebagai gubernur guna membangun daerahnya.
Secara diam-diam, Nono ternyata juga fokus kembali ke kampus. Bahkan, ia telah berhasil menyabet gelar doktor di bidang kelautan dari Civitas Akademika Institut Pertanian Bogor (IPB). Sidang promosi gelar doktornya akan digelar, Jumat (8/2/2013).
“Pada tanggal 15 Januari 2013 telah dilakukan sidang tertutup dan dinyatakan lulus, maka IPB menetapkan tanggal 8 Februari 2012 sebagai pelaksanaan sidang terbuka,” kata Nono Sampono dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (8/2/2012).
Sebagai putra Maluku yang sebagian besar wilayahnya terdiri dari lautan, Nono fokus mendalami masalah kelautan dan perikanan. Hal itu tampak terlihat jelas dari jenjang pendidikan yang ditempuhnya.
“Saya Sarjana S1 perikanan, Sarjana S2 Teknik Kelautan dan Perencanaan Pembangunan Kelautan dan S3 Pengembangan sumber daya perikanan,” kata pria yang kariernya pernah menjabat sebagai Komandan Korps Marinir TNI AL tersebut.
Nono mengambil desertasi dengan judul Analisis Kebijakan Pemerintah Mengatasi Dampak Reklamasi terhadap Perikanan Pesisir. Adapun Teluk Jakarta dipilihnya sebagai daerah penelitian.
“Umumnya reklamasi pantai di dunia, khususnya Indonesia selalu berdampak kepada ekosistim, sumber daya alam, budi daya alam, ekonomi dan sosial, termasuk aspek perikanan,” katanya.
Karena itu, kata Nono, harus ada kompensasi bagi masyarakat nelayan pesisir dalam bentuk alih profesi dengan menciptakan lapangan kerja baru dan pemberdayaan keluarga nelayan. “Sebagai contoh istri nelayan mendapat ketrampilan untuk membantu perekonomian keluarga, beasiswa bagi anak nelayan dan Kimpraswil atau relokasi pemukiman,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan, teluk Jakarta sebagai daerah penelitian dalam desertasinya, memiliki beberapa hal yang menguntungkan, jika reklamasi dilakukan oleh pemerintah. “Akan terjadi perluasan wilayah untuk pengembangan pembangunan Jakarta Water Front City yang nantinya akan membuat Laut sebagai halaman depan Jakarta dan mengembalikan kejayaan Jakarta sebagai Kota Bandar,” jelasnya.
Namun, katanya, reklamasi dilakukan pada area yang telah rusak. Kemudian, pemerintah harus mengalihkan daerah penangkapan ikan, dan budi daya diletakkan pada lokasi yang telah tercemar.
Dikatakannya, reklamasi juga bisa digunakan sebagai benteng terhadap banjir Rob dari laut yang setiap tahun mengancam Jakarta. “Reklamasi juga bermanfaat bagi penataan daerah-daerah kumuh di pesisir pantai. Selain itu, dapat menjadi momentum pembenahan alur pelayaran kapal yang selama ini tertutup oleh bagan-bagan penangkapan ikan milik masyarakat,” tandasnya.
(Muhammad Saifullah )