SAMARINDA- Insiden kapal tenggelam di Sungai Mahakam Loa Janan Hilir, Samarinda, Kaltim, yang menyebab satu orang tewas dan puluhan hilang diduga akibat kapal kelebihan muatan.
Hal itu terungkap dari pemeriksaan sementara terhadap Nakhoda KM Karya Indah, Tedi Noor Arifin, yang karam pada Rabu, 17 April petang.
"Hasil pemeriksaan nahkoda, indikasi awal sementara ini kapal karam akibat kelebihan muatan," kata Kapolsekta Kawasan Pelabuhan Samarinda, Kompol Harun Purwoko, Kamis (18/4/2013).
Dia menjelaskan, sebelum kapal karam sebagian besar penumpang duduk di haluan kapal. Hal Ini membuat air masuk dari bagian depan kapal.
"Kejadian berlangsung cepat. Nakhodanya juga tidak tahu persis berapa orang yang diangkut, tapi pengakuannya sekira 40an penumpang dan duduk di bagian depan. Otomatis air masuk dari depan," terangnya.
"Kapal menukik, penumpang lari ke belakang, dan ini mempercepat tenggelamnya kapal. Jadi bagian depan kapal yang duluan tenggelam," sambungnya.
Posisi kapal tenggelam tidak jauh dari Dermaga Loa Janan yakni sekira 50 meter. "Menurut pengakuan nakhoda tinggal 50 meter lagi merapat, kapal karam," ucapnya
Saat kapal karam itu, Tedi Noor nakhoda ikut tenggelam, karena mahir berenang pemuda 21 tahun itu berhasil mencapai tepi sungai.
"Si Nakhoda juga sempat tenggelam bersma kapalnya tapi dia selamat karena bisa berenang. Nakhoda sudah kita amankan untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Kita belum bisa mengorek informasi lebih, karena si nakhoda masih trauma, bicaranya belum lantang," lanjutnya.
KM Karya Indah karam diperkirakan mengangkut sekira 40an karyawan dari PT Kalamur dari Dermaga Malapi menuju Loa Janan saat pulang kerja sekitar pukul 17.30, kemarin petang.
Seorang ibu Nurhayati meninggal dan sekira 17 orang selamat namun sebagian besar masih hilang. Korban selamat dirawat di RS Trauma Center, namun sebagian dirujuk ke RS AW Syahrani dan Abdul Muis Samarinda karena kondisi lebih parah.
Sampai pukul 22.00 pencarian masih dilakukan tim sar gabungan termasuk Polri dan TNI disekitar lokasi dengan radius beberapa kilometer.
(Kemas Irawan Nurrachman)