Setelah Fathir, Kini Peluru Nyasar Bersarang di Lengan Mirawati

Wahyudi, Jurnalis
Selasa 07 Mei 2013 15:12 WIB
Ilustrasi
Share :

MAKASSAR - Belum tuntas kasus peluru nyasar yang menewaskan bocah satu tahun Fathir Muhammad, 1 Februari 2013 lalu, kini kasus sama kembali terulang di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Seorang ibu rumah tangga (IRT), Mirawati (41), warga Jalan Gunung Latimojong Lorong 74 Kecamatan Ujung Pandang, jatuh bersimbah darah setelah sebutir peluru nyasar menembus lengan kanannya.

Kejadian ini berawal saat ibu enam orang anak itu tengah mempersiapkan jualan nasi kuningnya, di belakang ruang dapur rumahnya, sekitar pukul 07.30 Wita. Namun saat duduk di sebuah kursi panjang sambil memotong-motong sayurannya, tiba-tiba korban dan suaminya, Ansar (48), mendengar suara ledakan sebanyak dua kali dari arah luar rumah.

"Setelah mendengar suara ledakan, tiba-tiba saya rasakan lengan kanan terkena batu. Tapi setelah saya raba, ternyata bukan dan lengan saya banyak mengeluarkan darah," kata Mirawati.

Mendapati istrinya terluka, suami korban langsung membawa istrinya ke Rumah Sakit (RS) Stellamaris Makassar untuk mendapatkan perawatan intensif sehingga nyawanya bisa diselamatkan.

Dari hasil foto rontgent RS, diketahui jika di lengan kanan korban, tepat di bawah tulang, bersarang sebuah benda asing yang diduga kuat proyektil peluru. "Saat itu saya baru menyiapkan makanan untuk suami. Setelah terkena peluru ini, saya lihat terpal atap samping rumah juga bocor," kata korban di Ruang UGD RS Stellamaris.

Hingga kemarin, perempuan bertubuh tambun ini masih terbaring di RS, sambil menunggu operasi pengangkatan peluru dari tim medis.

Saudara ipar korban, Daeng Rani (44), mengatakan, saat peristiwa nahas itu terjadi, keluarga tidak mendapati adanya kejadian tawuran atau pun polisi yang mengejar tersangka kriminal di sekitar lokasi.

Dia menduga, arah peluru tersebut berasal dari atas, karena atap terpal berwarna cokelat milik korban, bocor akibat terkena peluru yang sama. "Kami sudah sisir dari lorong ke lorong, tak ada tawuran atau perkelahian warga. Kami juga tidak mendapati polisi di sekitar situ," ujarnya.

Petugas gabungan Polsekta Ujung Pandang dan Polrestabes Makassar yang melakukan olah TKP, belum bisa menyimpulkan asal usul peluru tersebut. Dalam kasus ini, polisi telah memeriksa beberapa saksi mata, termasuk suami korban.

Wakasat Reskrim Polrestabes Makassar Kompol Anwar Hasan, mengaku pihaknya masih mendalami kasus tersebut. Dia masih menunggu proyektil yang akan diangkat dari tubuh korban. "Kami tunggu dulu dari tim dokter yang melakukan operasi pengangkatan peluru. Setelah itu baru kita kirim ke Laboratorium Forensik (Labfor) untuk penelitian lebih lanjut," ujar perwira menengah Polri ini.

Kasus peluru nyasar sebelumnya menimpa Fathir Muhammad di Jalan Baji Gau Kec Mamajang pada 1 Februari 2013 lalu. Setelah 35 hari menjalani perawatan di ICU RSUP Wahidin, akhirnya Fathir akhirnya meninggal dunia akibat luka tembak di kepalanya.

Hingga saat ini, pelaku penembakan masih misterius meski sudah ada dugaan senjata yang memuntahkan peluru adalah senjata laras panjang jenis US Carbine dan peluru kaliber 30 milimeter. Polisi masih kesulitan membongkarnya.

Kabid Humas Polda Sulselbar Kombes Pol Endi Sutendi yang dikonfirmasi, mengakui, pihaknya telah berkoordinasi dengan POM TNI terkait peluru nyasar yang mengenai Fathir. Hanya saja, penyidik kepolisian mengaku kesulitan lantaran tidak adanya saksi mata yang menyaksikan peristiwa nahas itu.

(Risna Nur Rahayu)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya