JAKARTA- Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP), Jimly Asshiddiqie mengaku lebih percaya diri (pede) maju sebagai calon wakil presiden (Cawapres), ketimbang sebagai calon presiden (Capres). Jimly sadar untuk menjadi Capres harus diusung partai politik (Parpol).
"Saya kurang pantas jadi Capres, paling tinggi Cawapres, bukannya saya merasa tidak mampu," kata dia di kantor DKPP, Jakarta, Rabu (8/5/2013).
Jimly merasa kualitasnya dalam hal memahami masalah dan mengelolah negara tidak kalah dibanding beberapa nama Capres yang sudah muncul. "Cuma kita kan harus realistis, saya ini tidak punya parpol dan dari dulu saya juga bertahan untuk tidak mau mengikuti ajakan," sambungnya.
Jimly mengungkapkan, setidaknya ada beberapa partai yang kini menjadi peserta Pemilu 2014, pernah mengajaknya bergabung. "Saya diminta jadi ketua dewan penasehat, ketua dewan pakar, kehormatan, ketua dewan pertimbangan, macam-macam. Tapi saya dari dulu enggak mau masuk partai," katanya.
Dia berpendirian kalau mau jadi Capres itu harus berkeringat dan masuk partai. "Masa kita enggak berkeringat mau mengambil jatah orang, kecuali kalau partai meminta, karena kekurangan orang. Biarin saja konvensi untuk orang-orang yang mau jadi capres saja," lanjutnya.
Menurut mantan ketua Mahkamah Konstitusi itu, kalau menjadi Cawapres tidak perlu konvensi. "Di Amerika Serikat tidak pernah itu Cawapres konvensi, terserah pada Capresnya dan yang kedua, partai harus diterima oleh partai berkoalisi," tutupnya.
(Tri Kurniawan)