Remaja Korban Tsunami Bertemu Orangtua Setelah Hilang 10 Tahun

Salman Mardira, Jurnalis
Jum'at 08 Agustus 2014 16:09 WIB
Share :

BANDA ACEH - Pertemuan Weniati alias Raudhatul Jannah (14) dengan orangtuanya setelah 10 tahun berpisah saat tsunami, sungguh mengharukan. Septi Rangkuti dan Jamaliah, orangtua Weniati, mengaku siap melakukan tes DNA untuk membuktikan kalau remaja itu buah hatinya. 

"Kalau ada yang komplain, kami siap untuk dibuktikan melalui tes DNA," kata Septi Rangkuti, ayah Weniati kepada wartawan di Banda Aceh, Jumat (8/8/2014).

Keduanya sangat yakin kalau Weniati adalah anak kandungnya yang dulu bernama Raudhatul Jannah, karena saat bertemu ada 'kontak batin' layaknya orangtua dan anak secara normal. "Saya yakin dia anak saya."

Mereka terpisah ketika tsunami menerjang pesisir Aceh pada Minggu 26 Desember 2004. Saat itu mereka tinggal di Lorong Kangkung, Gampong Pangong, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat.

Rumah mereka tempati lenyap disapu gelombang yang datang setelah gempa 9,2 Skala Richter. Septi mengaku sempat melihat anaknya diseret tsunami ketika mereka sama-sama diterjang ombak raksasa itu.

Menurutnya, kala itu mereka sedang sama-sama berjuang dari kematian. Septi berupaya menyelamatkan Weniati yang masih balita dan saudara laki-lakinya dengan meraih sebuah papan yang di bawa arus ke dekatnya. "Saya letakkan mereka di atas sebuah papan," ujarnya.

Sejurus kemudian gelombang tsunami kedua datang dan menghempas Weniati dan saudaranya. Mereka akhirnya berpisah. "Saya kejar-kejar tidak dapat lagi," tutur Septi yang mengaku selamat setelah tersangkut di pohon.

Tsunami surut, Jamaliah dan Septi terus mencari dua buah hatinya itu tapi tak kunjung ketemu. Karena trauma dan sedih atas musibah ini, pasangan itu meninggalkan desa mereka dan tinggal di Desa Tarigonan, Padang Sidempuan, Provinsi Sumatera Utara.

Setelah 10 tahun menanti, sekitar sebulan lalu Septi mendapat telepon dari abangnya di Blangpidie, Aceh Barat Daya yang mengabarkan ada anak perempuan mirip Raudhatul Jannah, anaknya. Septi dan isterinya, Jamaliah langsung pulang ke Aceh untuk bertemu. "Setelah bertemu, saya merasakan bahwa ini anak saya," ujar Septi.

Selama ini Weniati diasuh oleh keluarga Sarwani (62) di Pulau Banyak, Aceh Singkil, sebelum dibawa ke Blangpidie.

Weniati awalnya ditemukan terdampar di Pulau Banyak bersama adik laki-lakinya beberapa saat setelah tsunami menerjang Aceh akhir 2004 lalu oleh nelayan. Setahun setelah ditemukan, ia diasuh oleh Sarwani, orangtua dari nelayan yang menemukan Sarwani.

"Saya bilang untuk adopsi saja yang perempuan (Weniati), karena kita belum ada anak perempuan," kisah Sarwani yang mengaku sangat sedih bila harus berpisah dengan Weniati yang sudah dianggap seperti cucunya sendiri.

(Risna Nur Rahayu)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya