Raja Abdullah, Sang Reformis dari Timur Tengah

Mohammad Saifulloh, Jurnalis
Jum'at 23 Januari 2015 09:57 WIB
Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdulaziz (Foto: Reuters)
Share :

RIYADH – Raja Abdullah bin Abdul Aziz al-Saud (1924-2015) akan dikenang sebagai sosok pemimpin reformis dalam sejarah panjang kerajaan Arab Saudi.

Di antara kontribusi terbesar Raja Abdullah adalah keputusannya mengubah mekanisme suksesi kepemimpinan pada 2007 dengan membentuk Dewan Kerajaan Hay'at al-Bay'ah yang berwenang menentukan suksesi kepemimpinan di Kerajaan Arab Saudi. Keputusan ini diambil hanya setahun setelah dia resmi diangkat menjadi raja Arab Saudi.

Demikian disampaikan oleh Dr Joseph A Kechichian, peneliti senior King Faisal Center di Riyadh, Saudi Arabia, seperti dikutip dari Aljazeera, Jumat (23/1/2015). “Beliau ingin Arab Saudi dikenal karena penduduknya, bukan karena minyaknya,” tegas Dr Joseph.

Sejak 1982 sampai 2005, Abdullah menjadi putra mahkota dari saudaranya, Raja Fahd bin Abdul Aziz. Namun, sejak 1995 dia menjadi raja de facto karena Raja Fahd menderita stroke. Saat naik tahta pada 2006, Raja Abdullah menunjuk saudaranya Sultan sebagai putra mahkota, meski dia sudah meninggal dunia pada Oktober 2011. Abdullah lantas menunjuk saudaranya yang lain, Nayef bin Abdul Aziz, sebagai putra mahkota. Namun, sang pewaris tahta meninggal dunia pada Juni 2012. Sehingga akhirnya Pangeran Salman diangkat menjadi putra mahkota.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya