Marsinah, seorang buruh pabrik PT Catur Putra Surya (CPS) Porong, Sidoarjo, Jawa Timur menjadi salah satu dari aktivis buruh yang ditemukan dalam keadaan tak bernyawa pada 8 Mei 1993 di Hutan Dusun Jegong, Wilangan, Jawa Timur, setelah diculik orang tak dikenal.
Menurut Ketua Umum Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI), Nining Elitos, Marisnah merupakan sosok yang kritis terhadap perusahaannya dan perjuangan Marsinah itu untuk memperbaiki masalah kesejahteraan karyawan perusahaan PT CPS terkait upah yang sudah diputuskan naik oleh Gubernur KDH TK I Jawa Timur.
“Kalau Marsinah itu kan berangkat dari buruh pabrik di Jawa Timur, berjuang bagaimana memperbaiki masalah kesejahteraan terkait upah yang sesuai dengan peraturan hukum yang ada,” ujarnya saat dihubungi Okezone, Kamis (30/4/2015).
Nining sangat menyesalkan tindakan penculikan dan pembunuhan yang dialami Marsinah. Menurutnya, semangat melawan yang ada di dalam pemikiran Marsinah seharusnya bisa ditularkan pada peringatan Hari Buruh Internasional pada 1 Mei atau biasa dikenal May Day di seluruh Indonesia.
“Tetapi sampai dia berjuang, sampai dia kehilangan nyawanya sampai detik ini tidak terungkap. Itu adalah bagian dari risiko perjuangan yang sejatinya untuk kepentingan rakyat,” ujarnya.
Nining mengungkapkan, kekerasan yang diterima oleh buruh pada rezim Orde Baru atau di era Presiden Soeharto itu tidak hanya dialami Marsinah, tetapi dialami pula oleh Kimung seorang buruh pabrik di Pulo Gadung. Menurutnya, ketika Kimung berjuang menuntut hak kawan-kawannya, namun nyawanya hilang.
“Kalau pernah dengar nama buruh di Pulo Gadung namanya Kimung, ketika dia berjuang akhirnya nyawanya sampai hilang. Itu tidak sampai terekspos, sebenarnya banyak juga pejuang-pejuang (buruh) yang dihilangkan nyawanya secara paksa, sampai berujung maut dan sampai dipenjara,” tandasnya.
Nama Marsinah terus tersohor setelah kematiannya terbongkar bahwa sebelum dihilangkan nyawanya dia terlebih dahulu mendapatkan siksaan yang luar biasa. Bahkan, perjuangan Marsinah diabadikan dalam sebuah film dan lirik lagu oleh salah satu band punk Indonesia.
(Arief Setyadi )