ISTANBUL – Jelang Pemilu Turki yang akan berlangsung pada hari ini siang hari waktu setempat, Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) berharap dapat menguasai kursi di Parlemen Turki. Partai pimpinan Presiden Recep Tayyip Erdogan tersebut sebelumnya harus kehilangan dominasi di parlemen pada pemilu Juni 2015.
Kehilangan dominasi di parlemen memaksa Partai AKP membentuk koalisi. Sayangnya, koalisi yang dibentuk oleh Perdana Menteri (PM) Turki Ahmed Davotoglu menemui kegagalan.
Apabila kembali gagal menguasai kursi parlemen, AKP mau tidak mau harus membangun koalisi lagi. Pilihan mereka untuk koalisi kali ini adalah Partai Republik (CHP) yang beraliran sekuler dan merupakan oposisi utama AKP atau Partai Gerakan Nasional (MHP).
Sementara itu, isu paling utama dalam Pemilu Turki kali ini adalah isu keamanan negara. Serangkaian kekerasan yang melibatkan militan Kurdi dan bom yang diduga dilakukan ISIS merusak kestabilan dan keamanan Turki.
“Pemilu kali ini adalah untuk memajukan keamanan dan kestabilan negara dalam jangka panjang, apabila partai saya kembali mendominasi parlemen,” janji Erdogan, seperti dilaporkan BBC, Minggu (1/11/2015).
Meski demikian, dominasi Partai AKP di parlemen akan semakin melegitimasi kekuasaan Erdogan. Dengan semakin kuatnya kekuasaan presiden berusia 61 tahun itu, dikhawatirkan dirinya akan tergoda menjadi seorang diktator.
Presiden Erdogan sendiri sudah menuai kritik dari lawan-lawan politiknya karena diduga menyalahgunakan wewenang. Pada Rabu, 28 Oktober 2015, Kepolisian Turki menyerbu kantor media Koza-Ipek Holding yang disinyalir berafiliasi dengan kelompok pimpinan Fethullah Gulen.
Tindakan kepolisian tersebut menuai kritik. Erdogan dinilai ingin mengekang media-media yang kritis kepada pemerintah dengan dalih untuk mengendalikan situasi menjelang pemilu.
(Hendra Mujiraharja)