Melihat Pedestrian Ramah Pejalan Kaki di Kota Surabaya yang Mencapai 52.700 Meter

Syaiful Islam, Jurnalis
Sabtu 01 Desember 2018 10:31 WIB
Pedestrian di Kota Surabaya diklaim ramah akan pejalan kaki (Foto: Syaiful Islam/Okezone)
Share :

SURABAYA - Pemkot Surabaya terus melakukan pembangunan untuk pedestrian. Hingga saat ini pembangunan pedestrian sendiri sudah mencapai 52.700 meter. Pedestrian sendiri mulai digalakkan pembangunan sejak 2010 hingga saat ini.

Dengan adanya pedestrian tersebut tentunya akan membuat penjalan kaki lebih nyaman dan aman. Pasalnya pedestrian dibangun dengan lebar dua meter sampai tiga meter. Pedestrian ini juga nyaman untuk para tunanetra.

Sebab di tengah-tengahnya dipasang batu-batu kecil sebagai tanda untuk para tunanetra. Pedestrian sendiri dibangun untuk mengatasi banjir. Dibawah trotoar ada box culvert untuk memperlancar saluran air. Kini untuk di dalam kota Surabaya sudah tidak terlihat lagi banjir.

"Kita beri apresiasi bahwa pemkot Surabaya untuk melindungi pejalan kaki, memberikan kemudahan, kenyamanan dan perlindungan, maka ada upaya bersama legislatif dengan anggaran yang ada untuk membangun jalan pedestrian di kota Surabaya," terang anggota DPRD Kota Surabaya, Visensius Awey.

Ini juga merupakan amanah dari perda RT RW nomor 12 tahun 2014 terkait dengan prasarana. Salah satunya di dalamnya mengatur jaringan jalan bagi pejalan kaki. Setiap tahun dianggarkan untuk pembangunan trotoar yang ada di kota surabaya.

Sampai saat ini berdasarkan data yang dimiliki sejak dimulai tahun 2010 sudah 52.700 meter yang dibangun untuk pedestrian. Namun di dalam membangun pedestrian ini ada beberapa catatan yang diberikan pada pemerintah setempat, tentunya bahwa anggaran tidak kecil dalam membangum trotoar atau pedestrian.

Di mana banyak ditemukan pada beberapa titik lokasi trotoar yang ada tidak sesuai dengan kualitas. Artinya banyak sekali granit atau keramik yang mudah sekali rusak. Bahkan titik lokasi yang baru tiga bulan dipasang sudah rusak.

Ironisnya sampai sekarang belum ada perbaikan yang memadai. Laporan demi laporan telah disampaikan sebagai fungsi kontrol pada dinas terkait, tetapi sampai saat ini belum ada tindakan follow upnya untuk memperbaiki itu.

"Wali kota menginginkan granit yang berwarna-warni, itu menyangkut estetika keindahan. Memang ini menunjukkan keindahan tapi dari sisi fungsi yang menjadi kurang. Kita lihat dari sisi kualitas berkurang mengakibatkan ada space untuk keramik atau granit dalam pemasangan," paparnya.

Ia menambahkan, granit yang banyak ditemukan rusak ketika akan masuk ke pekarangan rumah karena dilewati kendaraan. Ini terjadi karena ketidakmampuan kualitas pekerjaan yang kurang memadai, sehingga kendaraan lewat sudah retak dan rusak.

Lalu perjalanan waktu diganti dengan ukuran yang lebih kecil, dengan pertimbangan mungkin sisi yang kecil ini bisa memperbaiki dari sisi kualitasnya. Tapi yang lebih sempit ternyata mengalami kerusakan.

"Kita memang pernah sampaikan kita memang butuh estetika tapi satu sisi kita juga ingin kualitas yang memadai. Kita belajar dari Semarang dan Jogja, ketika membangun trotoar di kawasan kota tua semarang dan malioboro kita menemukan kualitas bahannya sangat mumpuni. Artinya ketebalan granitnya cukup bagus kualitasnya cukup teruji," ungkapnya.

Di sana warnanya memang tidak warna warni karena bahan yang dipakai dari batu. Tetapi dari sisi kualitas sangat bagus dan bertahan lama. Hal tersebut pernah disampaikan pada Pemkot Surabaya namun tidak digubris.

"Pemkot lebih menyukai memakai granit yang ketebalannya tidak sampai 1 senti. Lalu senang memakai warna warni, memang dari segi keindahan sangat tampak dari sisi material saya melihat tidak baik, sehingga kita melihat beberapa titik yang rusak," tandasnya.

Sementara itu, Kabag Humas Pemkot Surabaya Muhammad Fikser menyatakan, pedestrian ini dibangun untuk memberikan kenyamanan bagi hak pejalan kaki. Jadi pedestriannya harus lebar dan dibuat nyaman. Dibawahnya tidak diberikan keramik tapi granit.

Kemudian dibuat turun naik jadi pejalan kaki tidak perlu harus capek. Pedestrian lebar itu diberikan motif. Jadi tidak sama desain dan warnanya berbeda-beda hampir di semua surabaya. Lalu di tengah-tengah untuk para difabel diberi petunjuk supaya tahu ini jalurnya.

"Tapi tidak hanya pedestrian yang dibangun, dibawahnya ada saluran besar ada box culvert yang besar-besar. Makanya setiap berapa meter itu ada hol yang motifnya berbeda-beda seperti di akses Ahmad Yani dan Siola berbeda. Kenapa begitu untuk memberikan kesan nuansa yang tidak membosankan jadi memang dibuat seperti itu," ucap Fikser.

Pembangunan pedestrian tidak hanya pada titik tertentu, namun di semua Kota Surabaya. Bahkan sekarang sudah masuk ke pinggir-pinggir kota Surabaya karena tidak hanya pedestrian yang dibangun. Tapi juga membangun saluran di bawah yang fungsinya tidak bisa dipisahkan.

Karena saluran yang besar untuk air, dan diatasnya untuk pedestrian orang berjalan supaya nyaman. Namun ada bak kontrol yang disiapkan pada beberapa meter supaya dalam pembersihan saluran lebih mudah.

"Hampir semua sudut-sudut kota Surabaya itu konsen pedestrian dan saluran menjadi satu paket yang harus memang diselesaikan. Hampir semua disentuh dengan pedestrian yang lebar dengan dibawah saluran yang lebar. Pada 2010 pembangunan pedestrian lebih ditingkatkan, karena tidak hanya pedestrian tapi salurannya juga dibangun untuk mengurangi banjir," ucap Fikser.

(Awaludin)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya