KOTA MALANG - Langkanya masker dan sejumlah alat kesehatan lainnya, membuat Walikota Malang Sutiaji mengumpulkan seluruh stakeholder di bidang kesehatan, mulai dari rumah sakit, puskesmas, hingga pemilik apotek se-Kota Malang di Kantor Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang.
"Saya kira karena ada kecemasan masyarakat terkait masker, ini kami kumpulkan mulai dari rumah sakit, puskesmas, dan apotek seluruh Kota Malang di sini," ungkap Sutiaji usai pertemuan pada Kamis siang (5/4/2020) di Kantor Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang.
Dari hasil rapat koordinasi ini, Sutiaji menjelaskan dari 70 apotek yang ada, hanya lima apotek yang masih memiliki stok masker, itupun dengan jumlah yang terbatas.
"Dari 70 apotek hanya lima yang tersedia. Hanya jumlahnya ada dua boks, ada empat boks, ada yang hanya tinggal 16 lembar, artinya di Kota Malang persediaan masker memprihatinkan," bebernya.
Kelangkaan Masker juga terjadi pada rumah sakit yang ada di Malang, dari 17 rumah sakit yang ada, hanya beberapa saja yang masih memiliki stok. Sementara di puskesmas, stok masker masih dinyatakan aman hingga dua bulan mendatang.
"Ada pola masyarakat yang terlalu berlebihan untuk kebutuhan masker, dari laporan memang harganya dari Rp 12 ribu, Rp 20 ribu, sampai terakhir ada yang Rp 450 ribu, ini yang saya kira perlu diwaspadai," tegas pria asal Lamongan ini.
Sutiaji mengingatkan rumah sakit, apotek, puskesmas, hingga perorangan yang masih menjual masker tidak sengaja menyimpan dan menjualnya di harga tinggi di saat kebutuhan masker mulai langka seperti saat ini.
"Teman - teman apoteker, penyedia alat kesehatan, dan perorangan yang jual, jangan sampai dia bermain itu. Jangan sampai dibeli terus dijual di online dengan harga tinggi. Jangan sampai, karena kita hukumnya jelas, orang yang bermain akan ditindak oleh pihak berwajib. Saya kira indikatornya itu jelas," lanjutnya.
Sementara itu, salah satu distributor masker Agus Suyono mengakui bila kekurangan stok masker disebabkan mandeknya bahan baku masker yang disuplai dari Jerman. "Stok kosong karena terbengkalai bahan bakunya dari Jerman," tambah Agus.
"Kami distributor ke rumah sakit di Malang. Di Malang kadang kami bagi 5 karton, Sampai sekarang belum ada masker, harga di kami naik standar, di kami Rp 20 ribu, tapi naik sekarang harganya Rp 80ribu sampai Rp100 ribu per boks. Satu boks-nya isi lima puluh," tutupnya.
(Khafid Mardiyansyah)