SEMARANG - Siti Suroyah tak pernah menyangka bakal menjadi orangtua tunggal pada usia relatif muda. Perempuan berusia 36 tahun itu mesti giat membanting tulang demi menghidupi dua momongan buah cintanya dengan almarhum suami.
"Dulu suami kerja di pabrik daerah Terboyo," ujar perempuan berkerudung itu ketika berbincang dengan wartawan, Kamis (3/12/2020).
Dia kini melakoni jualan makanan dan minunan ringan di depan rumahnya Kelurahan Bandarharjo Kecamatan Semarang Utara Kota Semarang Jawa Tengah. "Tempura Mbak Yayah" demikian dia memberi nama lapaknya.
Baca juga:
Hanya 7 Kabupaten/Kota di Indonesia yang Belum Terpapar Covid-19
Pecah Rekor, Kasus Covid-19 Hari Ini Bertambah 8.369 Orang!
Perempuan berkerudung itu menceritakan, semula roda perekonomian keluarganya berjalan mulus. Namun, badai pandemi Covid-19 mendadak menghantam hingga suaminya harus menjadi salah satu korban pemutusan hubungan kerja (PHK).
"Setelah PHK itu, suami mulai sakit-sakitan. Jadi sebagai pemasukan ya hanya mengandalkan saya. Beberapa bulan sebelumnya saya memang merintis jualan tempura dan es. Ya hasilnya lumayan, bisa bantu suami saat itu," terangnya.
Kondisi kesehatan suaminya semakin memburuk. Perawatan dan obat-obatan tak banyak membantu perbaikan kesehatannya. Hingga belum genap sebulan lalu, suaminya mengembuskan napas terakhir.
"Sakit terus setengah bulan lalu meninggal dunia. Kini saya sendiri bersama dua, yang pertama usia 8 tahun, dan yang kedua itu 8 bulan. Masih kecil-kecil, itu tanggungan saya," ucap dia pelan.
Meski menjadi orangtua tunggal, dia pantang menyerah. Lapak di depan rumahnya selalu ramai oleh anak-anak. Hasilnya cukup untuk kebutuhan sehari-hari termasuk susu bagi buah hati.
"Alhamdulillah ini malah saya mendapatkan bantuan gerobak dari IZI, bentuknya bagus. Bersih juga. Semoga dengan gerobak ini dagangan makin laris. Enggak tahu bagaimana mereka bisa tahu saya lalu ngasih bantuan ini," jelasnya terbata-bata.
Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Inisiatif Zakat Indonesia (IZI) Jateng, Djoko Adhi Saputro, menyampaikan, terdapat lima gerobak yang dibagikan secara gratis. Warga penerima bantuan gerobak ini merupakan yang terdampak pandemi Covid-19.
"Kali ini bantuan kita berikan kepada korban PHK yang selama masa pandemi. Sebelumnya, sejak pandemi itu sudah dua kali bantuan serupa yang kita berikan. Masing-masing periode kita bagikan lima gerobak," kata Djoko.
Selain memberikan bantuan gerobak bagi pelaku usaha ekonomi bawah, pihaknya juga intens mengedukasi agar meningkatkan nilai jual. Untuk sementara, bantuan masih menyasar kepada pelaku UMKM di bidang makanan.
"Kita pernah memberikan pelatihan kepada pedagang makanan pecel, agar sambalnya lebih layak jual. Ada juga lunpia mercon, kemudian jamu dan jamur, kita beri pelatihan termasuk cara pengemasan biar lebih menarik," tandasnya.
(Awaludin)