JAKARTA - Bagi orang Jawa, keris adalah keniscayaan. Pusaka ini selalu muncul dalam setiap momentum penting. Dan, salah satu jenis keris yang wajib dimiliki keluarga Jawa adalah Dhapur Tilamupih.
Secara maknawi, tilam upih, sangat mendalam. Tilam merupakan alas tidur. Anyaman dedaunan yang membentuk tikar. Dari sana, muncul filosofi bahwa keris tilam upih, sebagai simbol kebahagiaan, terutama kebahagiaan keluarga karena hidup serba selaras, ayem-tentrem.
Baca juga: Kawasan Wisata Gili Trawangan Dikepung Ratusan Kolektor Keris, Ada Apa?
Sebagai keris keluarga, dapur tilamupih memang biasa menjadi pusaka turun-temurun, karena inilah pusaka yang akan menjaga rasa Bahagia. Menjadi pusaka turun-temurun dengan harapan, generasi berikutnya, tetap terjaga kebahagiaan dan ketentraman keluarganya.
Baca juga: Ungkapan Hati Nasib sang Penyuci Keris, Pernah Tangani Punya Bule Swiss!
Dapur tilamupih adalah bagian dari empat keris utama orang Jawa. Selain tilam upih, biasanya kelaurga Jawa masa lampau, memilik keris dengan dapur tilamsari, kemudian keris brojol, serta keris berdapur jalak sangu tumpeng.
Dan inilah keris Dhapur Tilamupih yang sacral. Masuk Tangguh Nom-noman. Atau, bisa juga disebut sebagai keris PB karena beredar di masa Pakubuwono, raja Surakarta. Keris nom-noman PB IX berdhapur Tilamupih ini, termasuk yang magis. Memiliki pamor wengkon.
“Ini keris bagus. Warangkanya terbuat dari kayu cendanawangi namkepang. Terasa sangat agung kalau diagem,” kata Rizal Adji Wibowo, kolektor keris yang membangun komunitas Pandawaadji di Laweyan, Solo.
Pamor keris ini, tambahnya, adalah wengkon. Jadi lengkap sudah, keris nom-noman PB IX berdapur tilamupih ini, sebagai pusaka keluarga. Sebab, pamor wengkon filosofinya juga mendalam.
Secara motif, termasuk sederhana. Tapi tak sesederhana kelihatannya lantaran proses pembuatan pamor yang juga sering disebut pamor tepen atau pamor lis-lisan. Membuat garis yang terpola dengan baik, dibutuhkan bukan hanya pengalaman, tapi sekaligus ketekunan tingkat tinggi. Dan, itu hanya empu mumpuni yang bisa melakukannya.
Di sisi arti, pamor ini memiliki arti yang mendalam. Karena merupakan pemberi batas, merujuk garis pinggi pada motif wengkon. Dengan begitu, sudah pasti, pamor wengkon bisa dipahami sebagai keris yang memberi batas atau pagar bagi pemiliknya sehingga kalis, terhindar dari segala marabahaya.
Karena menjadi yang mengkoni (berasal dari kata wengku yang bisa diartikan memiliki secara sah) keris ini juga dapat menjadi simbol penjaga kehidupan pemiliknya, sehingga lebih prasojo, bersahaja, hemat, nestiti lan ngati-ati dalam hidup. Pemilik keris berpamor wengkon, juga akan terjaga martabatnya, harta kekayaannya, serta segala kebaikan budinya.
"Tilam upih juga melambangkan tidak kurang sandang lan pangan atau pakaian dan makanan. Keris ini mendatangkan kekayaan. Jadi kalau ingin kaya bisa mengkoleksi keris ini," ujar Ki Ngirwan, budayawan Jawa.
(Fakhrizal Fakhri )