GUS DUR pernah menjadi seorang dosen. Pemilik nama Abdurrahman Wahid itu mengajar mata kuliah Islam Kontemporer.
Diceritakan Aam Abdillah dosen senior UIN Bandung yang pernah menjadi Ketua Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), sekarang PSI. Aam pernah diajar Gus Dur.
Aam masih mengenang cara Gus Dur mengajar. Kalau sekarang bisa disebut cara belajar merdeka. Ceritanya bermula saat jadwal tatap muka usai dan tiba waktu ujian.
BACA JUGA:Kisah Gus Dur Digoda Saat Ziarah Makam Ulama Madura
Namun, karena saat itu waktu untuk bisa berkomunikasi dengan Gus Dur masih sulit. Aam mewakil teman-temannya mendatangi kediaman Gus Dur.
“Gus, sudah waktunya ujian, kami mau minta soal.”
“Sudahah, kalian buat saja karya mandiri,” jawab Gus Dur singkat.
Aam menyampaikan hal itu kepada teman sekelasnya. Tanpa banyak tanya, mereka langsung mengerjakan karya tulis sebagaimana arahan sang dosen.
Setelah mengerjakan karya tulis, mereka langsung mengumpulkannya. Aam pun kembali kebagian mandat mengantarkan tugas akhir kuliah itu ke rumah Gus Dur.
“Gus, ini kawan-kawan sudah selesai mengerjakan tugas. Sekarang mau minta nilai.”
“Isi saja sendiri, nanti saya tanda tangan.”
“Maksudnya, Gus?”
“Iya, kalian isi saja sendiri nilainya.”
“Waduh,” kata Aam spontan.
BACA JUGA:Humor Gus Dur: Cuma Kiai yang Boleh Salah, Kalau Wartawan Tak Boleh!
Ia pun kembali menemui teman-teman sekelasnya sambil membawa lembar penilaian. Pertama-tama dia datangi Facry Ali yang dianggap paling pintar di kelas.
“Fachry, kamu mau nulis nilai apa?
“Aku B saja,” jawab Facry Ali dengan datar.
Lalu Aam menemui Iqbal Saimima yang juga dikenal pandai. “Aku juga B saja,” kata Iqbal.
Karena dua jagoan di kelasnya memilih nilai B, maka kawan-kawan sekelasnya, termasuk dirinya, kompak memilih nilai C. Setelah semua mengisi nilai, Gus Dur tanpa memeriksa lagi langsung tanda tangan.
“Lha Fachry Ali saja milih B, masak saya pilih A,” kenang Pak Aam.
“Saya terpaksa deh pilih nilai C,” lanjutnya.
Pengalaman tersebut begitu mengesankan baginya. Kewibawaan seorang Gus Dur, mungkin juga karena kesungguhan dan keikhlasannya dalam mengajar, menempa mahasiswa didiknya untuk jujur pada kemampuan diri sendiri.
“Saya pernah mencoba hal yang sama ke mahasiswa saya, tapi gagal. Mereka ngisi A semua,” ujar Pak Aam sambil melepas tawa.
Disadur dari Nu.or.id
(Arief Setyadi )