<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Gara-Gara Warisan, Adik Bunuh Kakak</title><description>Gara-gara soal warisan, Supardi (60), warga Sirat, Sidomulyo, Bambanglipuro tega membunuh Suprapto Wiyono (80), kakak kadungnya. Supardi menghabisi kakaknya dengan mengayunkan cangkul berkali-kali hingga tewas seketika.</description><link>https://news.okezone.com/read/2007/11/15/1/60988/gara-gara-warisan-adik-bunuh-kakak</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2007/11/15/1/60988/gara-gara-warisan-adik-bunuh-kakak"/><item><title>Gara-Gara Warisan, Adik Bunuh Kakak</title><link>https://news.okezone.com/read/2007/11/15/1/60988/gara-gara-warisan-adik-bunuh-kakak</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2007/11/15/1/60988/gara-gara-warisan-adik-bunuh-kakak</guid><pubDate>Kamis 15 November 2007 00:34 WIB</pubDate><dc:creator>Ainun Nadjib</dc:creator><media:content url="https://e.okezone.com/error.png" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://e.okezone.com/error.png</image><title></title></images><description>BANTUL - Gara-gara soal warisan, Supardi (60), warga Sirat, Sidomulyo, Bambanglipuro tega membunuh Suprapto Wiyono (80), kakak kadungnya, Rabu (14/11/2007) sore. Supardi menghabisi kakaknya dengan mengayunkan cangkul berkali-kali hingga tewas seketika.Â Menurut Sabarno (40), tetangga pelaku, peristiwa berdarah ini berawal ketika Surati (27), cucu korban memetik buah pisang di kebun kakeknya. Tindakan Surati ini membuat pelaku marah-marah. Pelaku menganggap pisang yang dipetik oleh Surati adalah miliknya lantaran tumbuh ditanah warisan yang selama ini disengketakan.Â &amp;quot;Korban yang mendengar cucunya dimarahi pelaku langsung mendatangi rumah pelaku. Saat itu keduanya langsung terlibat cekcok mulut,&amp;quot; terang Sabarno.Â Cekcok mulut antara kakak adik ini berakhir dengan tragis. Pelaku yang kalap berlari kedalam rumah mengambil cangkul. Ia langsung mengayunkannya ke tubuh korban hingga tewas ditempat. Dari luka yang dialami korban, pelaku paling tidak mengayunkan cangkulnya ke tubuh korban berkali-kali.Â Kasat Reskrim Polres Bantul Ajun Komisaris Polisi (AKP) Teguh Wahono menyebutkan, dari hasil pemeriksaan sementara motifnya memang soal warisan. Selama ini kedua kakak beradik ini memang sering cekcok perihal warisan. Terakhir pelaku merasa tidak senang saat korban mendirikan bangunan baru.Â &amp;quot;Kendati korban mendirikan rumah ditanahnya sendiri, pelaku merasa tidak senang. Mungkin ia merasa tanah tersebut juga menjadi haknya. Puncaknya ketika cucu korban memetik pisang ini,&amp;quot; terang Teguh.Â Perihal warisan ini dibenarkan oleh pelaku. Kepada wartawan setelah diamankan petugas, Supardi mengaku dirinya sudah tidak bertegur sapa dengan kakaknya ini sejak lama. Pemicunya akibat pembagian warisan yang tidak sama.Â Sosiolog Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) Bambang Kusumo menilai banyaknya kejadian seperti ini ditengah masyarakat akibat terjadinya proses komoditifasi. Yakni pergeseran nilai di masyarakat yang sangat luar biasa, mengukur segala sesuatu dengan benda dan materi.Â Sementara disisi lain, masyarakat tidak bisa mengimbangi kebutuhan yang timbul akibat pergeseran nilai itu dengan kemampuan daya beli yang memadai. Sehingga, warisan yang dulu hanya cenderung bersifat sosial dan kultur saat ini sudah menjadi aset yang harus dipertahankan mati-matian. &amp;quot;Pergeseran nilai inilah yang membuat masyarakat menjadi stres. Sehingga, melakukan tindakan-tindakan yang melanggar hukum dan norma masyarakat,&amp;quot; terangnya. </description><content:encoded>BANTUL - Gara-gara soal warisan, Supardi (60), warga Sirat, Sidomulyo, Bambanglipuro tega membunuh Suprapto Wiyono (80), kakak kadungnya, Rabu (14/11/2007) sore. Supardi menghabisi kakaknya dengan mengayunkan cangkul berkali-kali hingga tewas seketika.Â Menurut Sabarno (40), tetangga pelaku, peristiwa berdarah ini berawal ketika Surati (27), cucu korban memetik buah pisang di kebun kakeknya. Tindakan Surati ini membuat pelaku marah-marah. Pelaku menganggap pisang yang dipetik oleh Surati adalah miliknya lantaran tumbuh ditanah warisan yang selama ini disengketakan.Â &amp;quot;Korban yang mendengar cucunya dimarahi pelaku langsung mendatangi rumah pelaku. Saat itu keduanya langsung terlibat cekcok mulut,&amp;quot; terang Sabarno.Â Cekcok mulut antara kakak adik ini berakhir dengan tragis. Pelaku yang kalap berlari kedalam rumah mengambil cangkul. Ia langsung mengayunkannya ke tubuh korban hingga tewas ditempat. Dari luka yang dialami korban, pelaku paling tidak mengayunkan cangkulnya ke tubuh korban berkali-kali.Â Kasat Reskrim Polres Bantul Ajun Komisaris Polisi (AKP) Teguh Wahono menyebutkan, dari hasil pemeriksaan sementara motifnya memang soal warisan. Selama ini kedua kakak beradik ini memang sering cekcok perihal warisan. Terakhir pelaku merasa tidak senang saat korban mendirikan bangunan baru.Â &amp;quot;Kendati korban mendirikan rumah ditanahnya sendiri, pelaku merasa tidak senang. Mungkin ia merasa tanah tersebut juga menjadi haknya. Puncaknya ketika cucu korban memetik pisang ini,&amp;quot; terang Teguh.Â Perihal warisan ini dibenarkan oleh pelaku. Kepada wartawan setelah diamankan petugas, Supardi mengaku dirinya sudah tidak bertegur sapa dengan kakaknya ini sejak lama. Pemicunya akibat pembagian warisan yang tidak sama.Â Sosiolog Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) Bambang Kusumo menilai banyaknya kejadian seperti ini ditengah masyarakat akibat terjadinya proses komoditifasi. Yakni pergeseran nilai di masyarakat yang sangat luar biasa, mengukur segala sesuatu dengan benda dan materi.Â Sementara disisi lain, masyarakat tidak bisa mengimbangi kebutuhan yang timbul akibat pergeseran nilai itu dengan kemampuan daya beli yang memadai. Sehingga, warisan yang dulu hanya cenderung bersifat sosial dan kultur saat ini sudah menjadi aset yang harus dipertahankan mati-matian. &amp;quot;Pergeseran nilai inilah yang membuat masyarakat menjadi stres. Sehingga, melakukan tindakan-tindakan yang melanggar hukum dan norma masyarakat,&amp;quot; terangnya. </content:encoded></item></channel></rss>
