<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pakar 8 Negara Rumuskan Penanganan Pascabencana</title><description>Pakar dari Belanda, Inggris, Singapura, Srilanka, Jerman, China, Thailand, dan Indonesia berkumpul untuk merumuskan manajemen penanganan pascabencana.</description><link>https://news.okezone.com/read/2008/01/10/1/74146/pakar-8-negara-rumuskan-penanganan-pascabencana</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2008/01/10/1/74146/pakar-8-negara-rumuskan-penanganan-pascabencana"/><item><title>Pakar 8 Negara Rumuskan Penanganan Pascabencana</title><link>https://news.okezone.com/read/2008/01/10/1/74146/pakar-8-negara-rumuskan-penanganan-pascabencana</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2008/01/10/1/74146/pakar-8-negara-rumuskan-penanganan-pascabencana</guid><pubDate>Kamis 10 Januari 2008 01:16 WIB</pubDate><dc:creator>Amir Tejo</dc:creator><media:content url="https://e.okezone.com/error.png" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://e.okezone.com/error.png</image><title></title></images><description>SURABAYA - Puluhan pakar dari delapan negara hadir di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Pakar dari Belanda, Inggris, Singapura, Srilanka, Jerman, China, Thailand, dan Indonesia bersama-sama merumuskan metode dan manajemen penanganan pascabencana.Mereka adalah Dr Ir Emilia van Egmond dan Prof Dr Jouke M Post (Belanda), Dr Francis Edum Fotwe (Inggris), Prof Dr George Ofori (Singapura), Prof Ananda Jayawardane (Srilanka), Prof Christian Brockmann (Jerman), Prof Mohan Kumaraswamy (China), Prof Stephen O Ogunlana (Thailand), dan Prof Johan (ITS, Indonesia).Tujuan Simposium ini adalah untuk menemukan sebuah model penanganan pascabencana. Termasuk salah satu yang paling utama adalah menemukan sebuah model rumah yang cepat bangun dan efisien dalam hal penggunaan material dan ramah lingkungan.Saat ini ITS sudah punya model rumah yang dapat dibangun dalam waktu sembilan jam. Rumah cepat tersebut sudah diterapkan dalam program rekonstruksi pascatsunami di Aceh.&amp;quot;Tapi itu masih kurang cepat. Kita menargetkan rumah yang bisa dibangun hanya dalam waktu empat jam saja,&amp;quot; ujar Rektor ITS Rriyo Suprobo, Rabu (9/1/2008).Antonius Budiono, Direktur Bangunan dan Lingkungan, Ditjen Cipta Karya, Departemen PU mengakui saat ini manaJemen penanganan bencana yang paling mendesak adalah tempat tinggal.&amp;quot;Kalau bisa dalam waktu kurang dari 24 jam,&amp;quot;tambahnya.Permasalahan kedua adalah bahan baku yang digunakan. Sebisa mungkin, bahan baku adalah bahan yang relatif cukup kuat, dan mudah didapatkan di wilayah bencana itu sendiri.Seperti diungkapkan Prof Ananda Jayawardane dari University of Moratuwa, Sri Lanka, bahan kayu memang banyak dipakai untuk rumah-rumah sementara. Apalagi, kayu dinilai lebih aman untuk daerah rawan gempa. Hanya saja, kayu adalah bahan yang sangat mahal dan sulit ditemukan di Srilanka.Sebagai salah satu wilayah yang juga dilanda tsunami 2004 lalu, recovery di Srilanka termasuk cepat. National Disaster Management Plan Sri Lanka sudah diterapkan sejak 2005 silam.&amp;quot;Kami menyadari wilayah Sri Lanka relatif rawan bencana. Dulu sebelum tsunami, kami tidak siap menghadapi bencana. Sekarang kami siap,&amp;quot; lanjutnya.</description><content:encoded>SURABAYA - Puluhan pakar dari delapan negara hadir di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Pakar dari Belanda, Inggris, Singapura, Srilanka, Jerman, China, Thailand, dan Indonesia bersama-sama merumuskan metode dan manajemen penanganan pascabencana.Mereka adalah Dr Ir Emilia van Egmond dan Prof Dr Jouke M Post (Belanda), Dr Francis Edum Fotwe (Inggris), Prof Dr George Ofori (Singapura), Prof Ananda Jayawardane (Srilanka), Prof Christian Brockmann (Jerman), Prof Mohan Kumaraswamy (China), Prof Stephen O Ogunlana (Thailand), dan Prof Johan (ITS, Indonesia).Tujuan Simposium ini adalah untuk menemukan sebuah model penanganan pascabencana. Termasuk salah satu yang paling utama adalah menemukan sebuah model rumah yang cepat bangun dan efisien dalam hal penggunaan material dan ramah lingkungan.Saat ini ITS sudah punya model rumah yang dapat dibangun dalam waktu sembilan jam. Rumah cepat tersebut sudah diterapkan dalam program rekonstruksi pascatsunami di Aceh.&amp;quot;Tapi itu masih kurang cepat. Kita menargetkan rumah yang bisa dibangun hanya dalam waktu empat jam saja,&amp;quot; ujar Rektor ITS Rriyo Suprobo, Rabu (9/1/2008).Antonius Budiono, Direktur Bangunan dan Lingkungan, Ditjen Cipta Karya, Departemen PU mengakui saat ini manaJemen penanganan bencana yang paling mendesak adalah tempat tinggal.&amp;quot;Kalau bisa dalam waktu kurang dari 24 jam,&amp;quot;tambahnya.Permasalahan kedua adalah bahan baku yang digunakan. Sebisa mungkin, bahan baku adalah bahan yang relatif cukup kuat, dan mudah didapatkan di wilayah bencana itu sendiri.Seperti diungkapkan Prof Ananda Jayawardane dari University of Moratuwa, Sri Lanka, bahan kayu memang banyak dipakai untuk rumah-rumah sementara. Apalagi, kayu dinilai lebih aman untuk daerah rawan gempa. Hanya saja, kayu adalah bahan yang sangat mahal dan sulit ditemukan di Srilanka.Sebagai salah satu wilayah yang juga dilanda tsunami 2004 lalu, recovery di Srilanka termasuk cepat. National Disaster Management Plan Sri Lanka sudah diterapkan sejak 2005 silam.&amp;quot;Kami menyadari wilayah Sri Lanka relatif rawan bencana. Dulu sebelum tsunami, kami tidak siap menghadapi bencana. Sekarang kami siap,&amp;quot; lanjutnya.</content:encoded></item></channel></rss>
