<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Yang Sulit Diatur Bukan Rakyat, Tapi Pemimpin</title><description>Dalam acara peringatan hari lahir (Harlah)Â  Nahdlatul UlamaÂ  (NU) ke-82 di Senayan, sejumlah angota keluarga dari enam Presiden Indonesia diundang. Ketua PBNU Hasyim Muzadi, menyatakan NU menginginkan tokoh pemimpin Indonesia dapat bahu membahu mengatasi persoalan bangsa.</description><link>https://news.okezone.com/read/2008/02/03/1/80465/yang-sulit-diatur-bukan-rakyat-tapi-pemimpin</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2008/02/03/1/80465/yang-sulit-diatur-bukan-rakyat-tapi-pemimpin"/><item><title>Yang Sulit Diatur Bukan Rakyat, Tapi Pemimpin</title><link>https://news.okezone.com/read/2008/02/03/1/80465/yang-sulit-diatur-bukan-rakyat-tapi-pemimpin</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2008/02/03/1/80465/yang-sulit-diatur-bukan-rakyat-tapi-pemimpin</guid><pubDate>Minggu 03 Februari 2008 10:27 WIB</pubDate><dc:creator>Sutarmi</dc:creator><media:content url="https://e.okezone.com/error.png" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://e.okezone.com/error.png</image><title></title></images><description>  JAKARTA -  Dalam acara peringatan hari lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama (NU) ke-82 di Senayan, sejumlah angota keluarga dari enam Presiden Indonesia diundang. Ketua PBNU Hasyim Muzadi, menyatakan NU menginginkan tokoh pemimpin Indonesia dapat bahu membahu mengatasi persoalan bangsa.&amp;quot;Dalam mimpi NU, tokoh pemimpin utama Indonesia ini bisa bahu membahu menyelesaikan separuh masalah Indonesia. Separuhnya lagi diselesaikan bersama-sama,&amp;quot; ujar Hasyim, dalam sambutanya di Harlah ke 82 di Gelora Bung Karno, Minggu (3/1/2008).  &amp;quot;Saat ini bangsa Indonesia bukan kesulitan menghadapi bencana yang datang silih berganti tapi juga kesulitan mendamaikan antar pemimpin. Ternyata yang sulit bukan masalah rakyat  tapi mengatur para pemimpin,&amp;quot; imbuhnya.  Dalam Harlah NU ke 82 ini Hasyim mengajak seluruh warga NU untuk mawas diri dan mengintropeksi diri. &amp;quot;Kita bangun kehormatan, kita kembangkan prestasi, dan kita bangun kembali Indonesia,&amp;quot; tandasnya.  Lebih lanjut Hasyim menyoroti persoalan reformasi yang berdampak pada reformasi internal NU. &amp;quot; Reformasi bisa mendorong demokrasi tapi di sisi lain membawa tantangan besar bagi NU,&amp;quot; ujarnya.  Acara Harlah dihadiri Presiden dan Wakil Presiden dan tokoh politik baik dari kalangan NU, Muhammadiyah dan tokoh nasional.  Nampak hadir, Ketua Umum Partai Hanura Wiranto, mantan Ketua Umum Golkar Akbar Tanjung, Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Ashidiqie, Titiek Soeharto, Menkes Siti Fadilah Supari, Menag Maftuh Basyuni, Ketua PP Muhamaddiyah Din Syamsuddin, Gubernur DKI Fauzi Bowo, Mendagri Mardiyanto dan Kepala BIN Syamsir Siregar.</description><content:encoded>  JAKARTA -  Dalam acara peringatan hari lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama (NU) ke-82 di Senayan, sejumlah angota keluarga dari enam Presiden Indonesia diundang. Ketua PBNU Hasyim Muzadi, menyatakan NU menginginkan tokoh pemimpin Indonesia dapat bahu membahu mengatasi persoalan bangsa.&amp;quot;Dalam mimpi NU, tokoh pemimpin utama Indonesia ini bisa bahu membahu menyelesaikan separuh masalah Indonesia. Separuhnya lagi diselesaikan bersama-sama,&amp;quot; ujar Hasyim, dalam sambutanya di Harlah ke 82 di Gelora Bung Karno, Minggu (3/1/2008).  &amp;quot;Saat ini bangsa Indonesia bukan kesulitan menghadapi bencana yang datang silih berganti tapi juga kesulitan mendamaikan antar pemimpin. Ternyata yang sulit bukan masalah rakyat  tapi mengatur para pemimpin,&amp;quot; imbuhnya.  Dalam Harlah NU ke 82 ini Hasyim mengajak seluruh warga NU untuk mawas diri dan mengintropeksi diri. &amp;quot;Kita bangun kehormatan, kita kembangkan prestasi, dan kita bangun kembali Indonesia,&amp;quot; tandasnya.  Lebih lanjut Hasyim menyoroti persoalan reformasi yang berdampak pada reformasi internal NU. &amp;quot; Reformasi bisa mendorong demokrasi tapi di sisi lain membawa tantangan besar bagi NU,&amp;quot; ujarnya.  Acara Harlah dihadiri Presiden dan Wakil Presiden dan tokoh politik baik dari kalangan NU, Muhammadiyah dan tokoh nasional.  Nampak hadir, Ketua Umum Partai Hanura Wiranto, mantan Ketua Umum Golkar Akbar Tanjung, Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Ashidiqie, Titiek Soeharto, Menkes Siti Fadilah Supari, Menag Maftuh Basyuni, Ketua PP Muhamaddiyah Din Syamsuddin, Gubernur DKI Fauzi Bowo, Mendagri Mardiyanto dan Kepala BIN Syamsir Siregar.</content:encoded></item></channel></rss>
