<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Penelitian Susu dari IPB Belum Valid</title><description>Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mempertanyakan jumlah produk susu yang dijadikan sampel penelitian oleh tim peneliti dari IPB. Perlu penelitian kembali agar hasilnya lebih valid.  </description><link>https://news.okezone.com/read/2008/02/27/1/87219/penelitian-susu-dari-ipb-belum-valid</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2008/02/27/1/87219/penelitian-susu-dari-ipb-belum-valid"/><item><title>Penelitian Susu dari IPB Belum Valid</title><link>https://news.okezone.com/read/2008/02/27/1/87219/penelitian-susu-dari-ipb-belum-valid</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2008/02/27/1/87219/penelitian-susu-dari-ipb-belum-valid</guid><pubDate>Rabu 27 Februari 2008 15:18 WIB</pubDate><dc:creator>Muhammad Hasits</dc:creator><media:content url="https://e.okezone.com/error.png" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://e.okezone.com/error.png</image><title></title></images><description>JAKARTA - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mempertanyakan jumlah produk susu yang dijadikan sampel penelitian oleh tim peneliti dari IPB. Perlu penelitian kembali agar hasilnya lebih valid.&amp;quot;Kalau dilihat kaitannya dengan penelitian yang dilakukan, sebetulnya isu ini sangat memalukan. Karena sampelnya sangat kecil,&amp;quot; ujar Ketua IDI Fachmi Idris kepada okezone di Kantor IDI, Jalan Samratulangi nomor 29, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (27/2/2008).Fachmi mempertanyakan publikasi hasil penelitian tersebut. Karena, peneliti IPB Tri Estuningsih dalam penelitiannya menggunakan sampel yang tidak mencakup secara keseluruhan. Selain itu, lanjutnya, secara metodologi juga masih dipertanyakan. &amp;quot;Secara metodologinya juga masih bisa diperdebatkan,&amp;quot; ujar Fachmi.Secara keseluruhan Ketua IDI menyayangkan penelitian dari IPB yang saat ini meresahkan masyarakat. IPB dalam penelitiannya menemukan, 22,73 persen susu formula dari 22 sampel, dan 40 persen makanan bayi dari 15 sampel mengandung bakteri Entrobazter Sakazaki. Bakteri ini sudah diuji coba pada hewan. Hasilnya, bakteri ini mengakibatkan gangguan otak, usus dan limpa. Selain itu pertumbuhan bakteri bisa lebih cepat pada suhu 37-44 derajat celsius dan dapat bertahan hingga suhu 60 derajat celsius. (hri)  </description><content:encoded>JAKARTA - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mempertanyakan jumlah produk susu yang dijadikan sampel penelitian oleh tim peneliti dari IPB. Perlu penelitian kembali agar hasilnya lebih valid.&amp;quot;Kalau dilihat kaitannya dengan penelitian yang dilakukan, sebetulnya isu ini sangat memalukan. Karena sampelnya sangat kecil,&amp;quot; ujar Ketua IDI Fachmi Idris kepada okezone di Kantor IDI, Jalan Samratulangi nomor 29, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (27/2/2008).Fachmi mempertanyakan publikasi hasil penelitian tersebut. Karena, peneliti IPB Tri Estuningsih dalam penelitiannya menggunakan sampel yang tidak mencakup secara keseluruhan. Selain itu, lanjutnya, secara metodologi juga masih dipertanyakan. &amp;quot;Secara metodologinya juga masih bisa diperdebatkan,&amp;quot; ujar Fachmi.Secara keseluruhan Ketua IDI menyayangkan penelitian dari IPB yang saat ini meresahkan masyarakat. IPB dalam penelitiannya menemukan, 22,73 persen susu formula dari 22 sampel, dan 40 persen makanan bayi dari 15 sampel mengandung bakteri Entrobazter Sakazaki. Bakteri ini sudah diuji coba pada hewan. Hasilnya, bakteri ini mengakibatkan gangguan otak, usus dan limpa. Selain itu pertumbuhan bakteri bisa lebih cepat pada suhu 37-44 derajat celsius dan dapat bertahan hingga suhu 60 derajat celsius. (hri)  </content:encoded></item></channel></rss>
