<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ciuman Massal Usai Nyepi Meriah</title><description>Tradisi omed-omedan (ciuman antara pemuda dan pemudi) di Denpasar berlangsung meriah. Beberapa turis dan media asing turut mengabadikan perayaan tersebut.  </description><link>https://news.okezone.com/read/2008/03/08/1/90004/ciuman-massal-usai-nyepi-meriah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2008/03/08/1/90004/ciuman-massal-usai-nyepi-meriah"/><item><title>Ciuman Massal Usai Nyepi Meriah</title><link>https://news.okezone.com/read/2008/03/08/1/90004/ciuman-massal-usai-nyepi-meriah</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2008/03/08/1/90004/ciuman-massal-usai-nyepi-meriah</guid><pubDate>Sabtu 08 Maret 2008 17:33 WIB</pubDate><dc:creator>Dede Suryana</dc:creator><media:content url="https://e.okezone.com/error.png" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://e.okezone.com/error.png</image><title></title></images><description>DENPASAR - Tradisi omed-omedan (ciuman antara pemuda dan pemudi) di Banjar Kaja Sesetan, Denpasar, Bali, berlangsung meriah. Beberapa turis dan media asing turut mengabadikan perayaan tersebut.Omed-Omedan adalah suatu tradisi yang hingga kini tetap bertahan dan dilestarikan. Kegiatan ini biasa dilangsungkan pada hari &amp;quot;Ngembak Geni&amp;quot;, sehari pasca-perayaan Nyepi. Sekumpulan teruni-teruni (muda-muda) di suatu Banjar akan melakukan acara peluk-pelukan dengan lawan jenisnya dibarengi dengan guyuran air.Sebelum acara dilaksanakan, para muda-mudi yang rata-rata berusia belasan ini diharuskan melakukan persembahyangan bersama di pura Banjar, dipimpin Jero Mangku (tetua Banjar). Setelah itu barulah mereka membentuk dua kelompok besar, terdiri dari 40 laki dan 40 perempuan.Ketika aba-aba dimulai, masing-masing kelompok berlari dengan mengunggulkan salah satu anggotanya. Selanjutnya, mereka yang terpilih diharuskan menarik pasangannya, memeluk dan menciumnya. Rebak riuh penonton terdengar tiap kali mereka sampai dan basah kuyup terkena guyuran air.Menurut Kelihan adat Banjar Kaja, I Wayan Sunarya, kegiatan ini adalah warisan nenek moyang yang sangat sakral. Selama ini mereka selalu melaksanakan acara tersebut, karena takut terjadi bencana bila meniadakannya.&amp;quot;Dulu sempat tidak melaksanakan acara ini, tapi setelah itu ada dua ekor babi besar yang berkelahi di depan Banjar,&amp;quot; katanya, Sabtu (8/3/2008).Disinggung soal kemungkinan adanya tanggapan negatif dari masyarakat terkait dengan acara tersebut dianggap pornografi, Sunarya mengatakan kegiatan ini sama sekali bukan pornografi. Sebab, pihaknya yakin ini murni budaya Nusantara yang lazin dilakukan sehari setelah pergantian Tahun Saka.&amp;quot;Ini warisan nenek moyang yang harus kami laksanakan,&amp;quot; tegasnya.Made Mahendara, salah seorang peserta menyatakan, dirinya cukup senang dengan kegiatan tersebut. Pemuda yang duduk di kelas dua SMA ini mengaku sudah ketiga kalinya mengikuti kegiatan serupa.&amp;quot;Karena ini acara adat, makanya kami senang mengikutinya,&amp;quot; akunya.Kebanyakan mereka jarang yang mengikuti kegiatan dengan tujuan jodoh. Kalau pun ada yang berlanjut ke hubungan lebih serius setelah omed-omedan ini, itu hanya karena kebetulan. Mereka tidak tahu siapa yang akan menjadi pasangan mereka.&amp;quot;Mudah-mudahan dapat yang sesuai dengan keinginan,&amp;quot; katanya sambil tertawa.Hal ini juga diakui beberapa penonton yang sering menyaksikan kegiatan tersebut. Made Sarmini, salah satu warga Banjar Kaja, mengaku, pemuda-pemudi di kampungnya jarang yang mendapatkan jodoh dengan tetangganya satu Banjar.Sarmini mencontohkan ketiga anaknya yang mendapatkan suami dari daerah lain. &amp;quot;Anak saya yang satu dapat orang Peguyangan, ada yang sama orang Kesiman. Malah anak saya yang pertama dapat orang Kupang,&amp;quot; ungkapnya.Pengunjung yang turut menyaksikan omed-omedan ini terlihat cukup antusias. Kawasan Jalan Sesetan di depan Banjar Kaja di tutup sementara, karena ribuan penonton memenuhi tempat itu. Beberapa media cetak dan elektronik, lokal dan nasional tak ketinggalan ikut mempublikasikan keramaian itu.Bahkan beberapa televisi asing juga ikut mengabadikannya.  </description><content:encoded>DENPASAR - Tradisi omed-omedan (ciuman antara pemuda dan pemudi) di Banjar Kaja Sesetan, Denpasar, Bali, berlangsung meriah. Beberapa turis dan media asing turut mengabadikan perayaan tersebut.Omed-Omedan adalah suatu tradisi yang hingga kini tetap bertahan dan dilestarikan. Kegiatan ini biasa dilangsungkan pada hari &amp;quot;Ngembak Geni&amp;quot;, sehari pasca-perayaan Nyepi. Sekumpulan teruni-teruni (muda-muda) di suatu Banjar akan melakukan acara peluk-pelukan dengan lawan jenisnya dibarengi dengan guyuran air.Sebelum acara dilaksanakan, para muda-mudi yang rata-rata berusia belasan ini diharuskan melakukan persembahyangan bersama di pura Banjar, dipimpin Jero Mangku (tetua Banjar). Setelah itu barulah mereka membentuk dua kelompok besar, terdiri dari 40 laki dan 40 perempuan.Ketika aba-aba dimulai, masing-masing kelompok berlari dengan mengunggulkan salah satu anggotanya. Selanjutnya, mereka yang terpilih diharuskan menarik pasangannya, memeluk dan menciumnya. Rebak riuh penonton terdengar tiap kali mereka sampai dan basah kuyup terkena guyuran air.Menurut Kelihan adat Banjar Kaja, I Wayan Sunarya, kegiatan ini adalah warisan nenek moyang yang sangat sakral. Selama ini mereka selalu melaksanakan acara tersebut, karena takut terjadi bencana bila meniadakannya.&amp;quot;Dulu sempat tidak melaksanakan acara ini, tapi setelah itu ada dua ekor babi besar yang berkelahi di depan Banjar,&amp;quot; katanya, Sabtu (8/3/2008).Disinggung soal kemungkinan adanya tanggapan negatif dari masyarakat terkait dengan acara tersebut dianggap pornografi, Sunarya mengatakan kegiatan ini sama sekali bukan pornografi. Sebab, pihaknya yakin ini murni budaya Nusantara yang lazin dilakukan sehari setelah pergantian Tahun Saka.&amp;quot;Ini warisan nenek moyang yang harus kami laksanakan,&amp;quot; tegasnya.Made Mahendara, salah seorang peserta menyatakan, dirinya cukup senang dengan kegiatan tersebut. Pemuda yang duduk di kelas dua SMA ini mengaku sudah ketiga kalinya mengikuti kegiatan serupa.&amp;quot;Karena ini acara adat, makanya kami senang mengikutinya,&amp;quot; akunya.Kebanyakan mereka jarang yang mengikuti kegiatan dengan tujuan jodoh. Kalau pun ada yang berlanjut ke hubungan lebih serius setelah omed-omedan ini, itu hanya karena kebetulan. Mereka tidak tahu siapa yang akan menjadi pasangan mereka.&amp;quot;Mudah-mudahan dapat yang sesuai dengan keinginan,&amp;quot; katanya sambil tertawa.Hal ini juga diakui beberapa penonton yang sering menyaksikan kegiatan tersebut. Made Sarmini, salah satu warga Banjar Kaja, mengaku, pemuda-pemudi di kampungnya jarang yang mendapatkan jodoh dengan tetangganya satu Banjar.Sarmini mencontohkan ketiga anaknya yang mendapatkan suami dari daerah lain. &amp;quot;Anak saya yang satu dapat orang Peguyangan, ada yang sama orang Kesiman. Malah anak saya yang pertama dapat orang Kupang,&amp;quot; ungkapnya.Pengunjung yang turut menyaksikan omed-omedan ini terlihat cukup antusias. Kawasan Jalan Sesetan di depan Banjar Kaja di tutup sementara, karena ribuan penonton memenuhi tempat itu. Beberapa media cetak dan elektronik, lokal dan nasional tak ketinggalan ikut mempublikasikan keramaian itu.Bahkan beberapa televisi asing juga ikut mengabadikannya.  </content:encoded></item></channel></rss>
