<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>AdamAir Riwayatmu Kini ...</title><description>Departemen Perhubungan mencabut izin terbang (operation specification) maskapai penerbangan AdamAir. Alasannya, AdamAir dipandang telah mengabaikan berbagai aspek standar kelaikan penerbangan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2008/03/19/59/93130/adamair-riwayatmu-kini</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2008/03/19/59/93130/adamair-riwayatmu-kini"/><item><title>AdamAir Riwayatmu Kini ...</title><link>https://news.okezone.com/read/2008/03/19/59/93130/adamair-riwayatmu-kini</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2008/03/19/59/93130/adamair-riwayatmu-kini</guid><pubDate>Rabu 19 Maret 2008 15:50 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://e.okezone.com/error.png" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://e.okezone.com/error.png</image><title></title></images><description>AdamAir! Departemen Perhubungan mencabut izin terbang (operation specification) maskapai penerbangan AdamAir. Alasannya, AdamAir dipandang telah mengabaikan berbagai aspek standar kelaikan penerbangan. Keputusan bernomor AU/1724/DSKU/0862/2008 itu bisa dikatakan sebagai puncak gunung es dari berbagai persoalan yang selama ini mendera maskapai yang bermarkas di Orange City itu. Sejak diluncurkan pada 19 Desember 2003 lalu, AdamAir tak jarang menghadapi berbagai persoalan yang berhubungan dengan keselamatan penerbangan. Bahkan, dua kecelakaan yang menimpa AdamAir cukup mencoreng penerbangan tanah air di mata internasional.Diawali dengan peristiwa Tambolaka pada 11 Februari 2006. Pesawat AdamAir bernomor penerbangan 782 tujuan Makassar terpaksa mendarat di Tambolaka, Nusa Tenggara Timur gara-gara tersesat. Hampir setahun kemudian, tepat di awal tahun 2007, pesawat AdamAir KI 574 penerbangan Surabaya-Makassar hilang. Pesawat yang membawa 96 penumpang dan enam awak itu meledak dan jatuh di perairan Majene. Tak ada yang selamat dalam kecelakaan ini. Kejadian demi kejadian yang menimpa AdamAir semakin menyudutkan citra maskapai pimpinan Adam Suherman itu. Citra AdamAir tergiring sebagai maskapai murah yang sering celaka. &amp;quot;Doain selamat ya, soalnya naik AdamAir,&amp;quot; kira-kira itulah yang seringkali meluncur dari mulut para penumpang AdamAir sebelum terbang. Penilaian itu bukan tanpa alasan. Masih lekat betul dalam ingatan ketika belasan pilot AdamAir mengundurkan diri dengan alasan buruknya standar keamanan penerbangan di tubuh AdamAir. Bahkan secara blak-blakkan, pilot-pilot itu mengaku sering dipaksa menerbangkan pesawat yang tengah bermasalah. AdamAir pun semakin tergopoh-gopoh memperbaiki citranya. Di tengah kepercayaan publik yang belum pulih, insiden kembali menimpa AdamAir, pada 10 Maret lalu. Pesawat berjenis Boeing 737-400 itu tergelincir di bandara Hang Nadim, saat melakukan pendaratan. Insiden itu rupanya berbuntut panjang. Konsorsium Global Transport Services, selaku pemegang 50 persen saham AdamAir menuding AdamAir tak serius menerapkan perbaikan standar keselamatan penerbangan. Tudingan itu berimbas pada pencabutan saham dari Adam SkyConnection, lima hari sebelum izin terbang AdamAir dicabut. Pendiri AdamAir, Adam Suherman lantas bersikukuh kemelut yang berujung pada pencabutan izin terbang maskapainya akibat konflik pemegang saham. Hal itu membuktikan Adam Suherman tidak bercermin diri.Tindakan tegas pemerintah rupanya tidak membuat Adam Suherman membuka mata lebar-lebar untuk melihat akar persoalan. Padahal seharusnya Adam Suherman bercermin diri atas buruknya manajemen kelayakan penerbangan maskapainya. Tragis, ketika mendengar hasil investigasi Departemen Perhubungan yang menyebut AdamAir tidak melakukan pelatihan pilot sesuai standar dan menggunakan komponen suku cadang yang tidak memiliki dokumen laik terbang. Nyawa taruhannya!Melihat kondisi ini, rasanya sulit bagi AdamAir untuk bangkit. Waktu tiga bulan yang diberikan pemerintah kepada AdamAir pun rasanya tidak cukup untuk membenahi kebobrokan yang telah mengakar di tubuh AdamAir. Sulit jika pemegang kebijakan di AdamAir tidak mengatasnamakan keselamatan di atas bisnis yang dijalaninya. Bisnis penerbangan bukan sekadar bisnis mencari keuntungan. Tapi lebih dari itu, bisnis penerbangan berhubungan dengan nyawa seseorang. Bisnis penerbangan berkaitan dengan bagaimana pelaku bisnis itu menjamin keselamatan para penumpangnya.Â   </description><content:encoded>AdamAir! Departemen Perhubungan mencabut izin terbang (operation specification) maskapai penerbangan AdamAir. Alasannya, AdamAir dipandang telah mengabaikan berbagai aspek standar kelaikan penerbangan. Keputusan bernomor AU/1724/DSKU/0862/2008 itu bisa dikatakan sebagai puncak gunung es dari berbagai persoalan yang selama ini mendera maskapai yang bermarkas di Orange City itu. Sejak diluncurkan pada 19 Desember 2003 lalu, AdamAir tak jarang menghadapi berbagai persoalan yang berhubungan dengan keselamatan penerbangan. Bahkan, dua kecelakaan yang menimpa AdamAir cukup mencoreng penerbangan tanah air di mata internasional.Diawali dengan peristiwa Tambolaka pada 11 Februari 2006. Pesawat AdamAir bernomor penerbangan 782 tujuan Makassar terpaksa mendarat di Tambolaka, Nusa Tenggara Timur gara-gara tersesat. Hampir setahun kemudian, tepat di awal tahun 2007, pesawat AdamAir KI 574 penerbangan Surabaya-Makassar hilang. Pesawat yang membawa 96 penumpang dan enam awak itu meledak dan jatuh di perairan Majene. Tak ada yang selamat dalam kecelakaan ini. Kejadian demi kejadian yang menimpa AdamAir semakin menyudutkan citra maskapai pimpinan Adam Suherman itu. Citra AdamAir tergiring sebagai maskapai murah yang sering celaka. &amp;quot;Doain selamat ya, soalnya naik AdamAir,&amp;quot; kira-kira itulah yang seringkali meluncur dari mulut para penumpang AdamAir sebelum terbang. Penilaian itu bukan tanpa alasan. Masih lekat betul dalam ingatan ketika belasan pilot AdamAir mengundurkan diri dengan alasan buruknya standar keamanan penerbangan di tubuh AdamAir. Bahkan secara blak-blakkan, pilot-pilot itu mengaku sering dipaksa menerbangkan pesawat yang tengah bermasalah. AdamAir pun semakin tergopoh-gopoh memperbaiki citranya. Di tengah kepercayaan publik yang belum pulih, insiden kembali menimpa AdamAir, pada 10 Maret lalu. Pesawat berjenis Boeing 737-400 itu tergelincir di bandara Hang Nadim, saat melakukan pendaratan. Insiden itu rupanya berbuntut panjang. Konsorsium Global Transport Services, selaku pemegang 50 persen saham AdamAir menuding AdamAir tak serius menerapkan perbaikan standar keselamatan penerbangan. Tudingan itu berimbas pada pencabutan saham dari Adam SkyConnection, lima hari sebelum izin terbang AdamAir dicabut. Pendiri AdamAir, Adam Suherman lantas bersikukuh kemelut yang berujung pada pencabutan izin terbang maskapainya akibat konflik pemegang saham. Hal itu membuktikan Adam Suherman tidak bercermin diri.Tindakan tegas pemerintah rupanya tidak membuat Adam Suherman membuka mata lebar-lebar untuk melihat akar persoalan. Padahal seharusnya Adam Suherman bercermin diri atas buruknya manajemen kelayakan penerbangan maskapainya. Tragis, ketika mendengar hasil investigasi Departemen Perhubungan yang menyebut AdamAir tidak melakukan pelatihan pilot sesuai standar dan menggunakan komponen suku cadang yang tidak memiliki dokumen laik terbang. Nyawa taruhannya!Melihat kondisi ini, rasanya sulit bagi AdamAir untuk bangkit. Waktu tiga bulan yang diberikan pemerintah kepada AdamAir pun rasanya tidak cukup untuk membenahi kebobrokan yang telah mengakar di tubuh AdamAir. Sulit jika pemegang kebijakan di AdamAir tidak mengatasnamakan keselamatan di atas bisnis yang dijalaninya. Bisnis penerbangan bukan sekadar bisnis mencari keuntungan. Tapi lebih dari itu, bisnis penerbangan berhubungan dengan nyawa seseorang. Bisnis penerbangan berkaitan dengan bagaimana pelaku bisnis itu menjamin keselamatan para penumpangnya.Â   </content:encoded></item></channel></rss>
