<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jadi Pawang Ular Bikin Sutrisminah Kaya</title><description>Kondisi perekonomian Sutrisminah, satu-satunya pawang Ular perempuan di Jombang, semakin hari kian membaik. Karena keahliannya menangkap ular, dirinya pun pernah sukses menjual satu ekor ular seharga Rp60 juta.  </description><link>https://news.okezone.com/read/2008/03/22/1/93632/jadi-pawang-ular-bikin-sutrisminah-kaya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2008/03/22/1/93632/jadi-pawang-ular-bikin-sutrisminah-kaya"/><item><title>Jadi Pawang Ular Bikin Sutrisminah Kaya</title><link>https://news.okezone.com/read/2008/03/22/1/93632/jadi-pawang-ular-bikin-sutrisminah-kaya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2008/03/22/1/93632/jadi-pawang-ular-bikin-sutrisminah-kaya</guid><pubDate>Sabtu 22 Maret 2008 08:01 WIB</pubDate><dc:creator>Tritus Julan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2008/03/22/1/93632/rO29KAvZAX.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Sutrisminah sedang beraksi bersama seekor ular (Foto: Tritus Julan/sindo)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2008/03/22/1/93632/rO29KAvZAX.jpg</image><title>Sutrisminah sedang beraksi bersama seekor ular (Foto: Tritus Julan/sindo)</title></images><description>JOMBANG - Kondisi perekonomian Sutrisminah, satu-satunya pawang Ular perempuan di Jombang, semakin hari kian membaik. Karena keahliannya menangkap ular, dirinya pun pernah sukses menjual satu ekor ular seharga Rp60 juta. &amp;quot;Semakin langka dan besar jenis ular yang didapat, akan semakin mahal harganya,&amp;quot; tutur Sutrisminah, di Jombang, Jawa Timur. Bukan berarti profesi sebagai pawang ular ini tak berbuah risiko. Ia bahkan tak bisa menghitung berapa kali dirinya menjadi sasaran gigitan ular-ular berbisa. Namun sejauh ini, ia selalu dapat mengatasinya. Buktinya, gigitan dan bisa ular-ular yang ia pelihara ini tak membuatnya sakit hingga saat ini. &amp;quot;Pernah kami menjual ular Sanca dengan bobot 2,5 kuintal, dan laku Rp60 juta. Itu harga yang paling mahal,&amp;quot; sebutnya. Selain menjual ular secara utuh, ia juga menekuni bisnis obat tradisonal. Dari darah dan empedu Cobra, ia menyediakan obat alternatif untuk semua jenis penyakit. Selian itu, daging dan kulit ular juga tak kalah memiliki nilai ekonomis. &amp;quot;Tak ada yang dibuang. Semua laku dijual, tinggal bagaimana mengolahnya. Ada cara khusus agar bisa ular tak meracuni tubuh kita. Caranya, olesi bagian yang digigit ular dengan benda yang panas. Cabe misalnya. Bisa ini akan keluar dengan sendirinya, dan tak sampai meracuni seluruh tubuh,&amp;quot; ungkapnya membocorkan resep jitunya.Keahlian Sutrisminah ini ternyata tak hanya dimilikinya. Ia sempat mewariskan keberaniaannya itu kepada anak dan suaminya. Bahkan, ia berhasil mencetak suaminya menjadi pawang ular baru. Kini, ia tak sendiri untuk melanjutkan usahanya itu. &amp;quot;Anak kami, Bintang, meski masih berumur dua tahun, sama sekali tak memiliki rasa takut terhadap ular. Kerap kali saat kami memamdikan ular, ia juga ikut memandikan,&amp;quot; tukasnya. Dia mengaku, dengan menjadi pawang dan pengepul ular berbisa ini membuat kondisi ekonomi keluarganya terus membaik. Apalagi, ia berhasil menangkap ular yang memiliki postur istimewa. </description><content:encoded>JOMBANG - Kondisi perekonomian Sutrisminah, satu-satunya pawang Ular perempuan di Jombang, semakin hari kian membaik. Karena keahliannya menangkap ular, dirinya pun pernah sukses menjual satu ekor ular seharga Rp60 juta. &amp;quot;Semakin langka dan besar jenis ular yang didapat, akan semakin mahal harganya,&amp;quot; tutur Sutrisminah, di Jombang, Jawa Timur. Bukan berarti profesi sebagai pawang ular ini tak berbuah risiko. Ia bahkan tak bisa menghitung berapa kali dirinya menjadi sasaran gigitan ular-ular berbisa. Namun sejauh ini, ia selalu dapat mengatasinya. Buktinya, gigitan dan bisa ular-ular yang ia pelihara ini tak membuatnya sakit hingga saat ini. &amp;quot;Pernah kami menjual ular Sanca dengan bobot 2,5 kuintal, dan laku Rp60 juta. Itu harga yang paling mahal,&amp;quot; sebutnya. Selain menjual ular secara utuh, ia juga menekuni bisnis obat tradisonal. Dari darah dan empedu Cobra, ia menyediakan obat alternatif untuk semua jenis penyakit. Selian itu, daging dan kulit ular juga tak kalah memiliki nilai ekonomis. &amp;quot;Tak ada yang dibuang. Semua laku dijual, tinggal bagaimana mengolahnya. Ada cara khusus agar bisa ular tak meracuni tubuh kita. Caranya, olesi bagian yang digigit ular dengan benda yang panas. Cabe misalnya. Bisa ini akan keluar dengan sendirinya, dan tak sampai meracuni seluruh tubuh,&amp;quot; ungkapnya membocorkan resep jitunya.Keahlian Sutrisminah ini ternyata tak hanya dimilikinya. Ia sempat mewariskan keberaniaannya itu kepada anak dan suaminya. Bahkan, ia berhasil mencetak suaminya menjadi pawang ular baru. Kini, ia tak sendiri untuk melanjutkan usahanya itu. &amp;quot;Anak kami, Bintang, meski masih berumur dua tahun, sama sekali tak memiliki rasa takut terhadap ular. Kerap kali saat kami memamdikan ular, ia juga ikut memandikan,&amp;quot; tukasnya. Dia mengaku, dengan menjadi pawang dan pengepul ular berbisa ini membuat kondisi ekonomi keluarganya terus membaik. Apalagi, ia berhasil menangkap ular yang memiliki postur istimewa. </content:encoded></item></channel></rss>
