<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jangan Dibelokin-Jangan Dibelokin!</title><description>Mengejutkan! Temuan yang dikeluarkan Komisi Nasional Keselematan Transportasi (KNKT) soal penyebab hilangnya pesawat AdamAir dengan nomor registrasi penerbangan DHI 574. </description><link>https://news.okezone.com/read/2008/03/25/59/94602/jangan-dibelokin-jangan-dibelokin</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2008/03/25/59/94602/jangan-dibelokin-jangan-dibelokin"/><item><title>Jangan Dibelokin-Jangan Dibelokin!</title><link>https://news.okezone.com/read/2008/03/25/59/94602/jangan-dibelokin-jangan-dibelokin</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2008/03/25/59/94602/jangan-dibelokin-jangan-dibelokin</guid><pubDate>Selasa 25 Maret 2008 17:57 WIB</pubDate><dc:creator>Ismoko Widjaja</dc:creator><media:content url="https://e.okezone.com/error.png" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://e.okezone.com/error.png</image><title></title></images><description>MENGEJUTKAN! Temuan yang dikeluarkan Komisi Nasional Keselematan Transportasi (KNKT) soal penyebab hilangnya pesawat AdamAir dengan nomor registrasi penerbangan DHI 574. Kepingan pesawat sebesar 2 meter itu akhirnya ditemukan di perairan Majene, Sulawesi Barat, sembilan hari sejak hilang 1 Januari 2007.Hasil analisa Cockpit Voice Recorder (CVR) menyebutkan, kedua Pilot terlibat atau menghadapi problem navigasi. Kemudian, kedua pilot itu terfokus perhatiannya pada Trouble Shooting permasalahan Inertial Reference System (IRS). Setidaknya, perhatian yang tersita itu selama 13 menit terakhir penerbangan. Dengan perhatian minimal pada flight requirement lainnya.Autopilot pun tidak berfungsi setelah timbul kerusakan pada sistem navigasi. Nah, keduanya justru fokus untuk memeriksa dan sedikit mengutak-atik sistem navigasi tersebut. Tak terasa dan tidak disadari, pesawat kian detik semakin miring hingga 100 derajat.&amp;quot;Tidak terdapat tanda-tanda atau bukti bahwa kedua pilot dapat mengendalikan pesawat secara tepat dan seksama, sesudah peringatan bank angle berbunyi, ketika pesawat roll melewati 35 derajat bank ke kanan,&amp;quot; ujar Ketua KNKT Tatang Kurniadi.Pilot pun tidak sempat menaikkan pesawat karena posisi pesawat sudah miring. Akibatnya, pesawat menghujam laut dengan kecepatan 1.000 kilometer per jam. Byarrr..!! Pesawat &amp;quot;menabrak&amp;quot; laut. Saking kencangnya tumbukan yang terjadi, kepingan pesawat terbesar yang ditemukan pun hanya selebar 2 meter saja. Yang memilukan lagi, terdengar suara kata-kata terakhir pilot Revri Agustian Widodo kepada co-pilotnya Yoga. &amp;quot;Jangan dibelokin, jangan dibelokin,&amp;quot; setelah itu tak diketahui nasib pesawat AdamAir dan seluruh penumpangnya.Temuan ini memang sangat mengejutkan dan menghentakkan masyarakat, terutama yang kerap menggunakan jasa penerbangan. Pilot memang tidak bisa disalahkan dalam temuan KNKT. Human error juga belum bisa disimpulkan. Tapi, sampai kapan kondisi akan terus menghantui kancah penerbangan di Tanah Air. Memang menyakitkan, kalau dikatakan Uni Eropa masih keukeuh men-travel band bagi maskapai Indonesia. Tapi, apa mau dikata. Secara nyata memang demikian adanya. Kendati setiap tiga bulan sekali, Departemen Perhubungan terus merilis peringkat maskapai penerbangan. Tapi, tak juga ada perubahan. Pesawat AdamAir yang hilang itu berisi 102 penumpang. Mereka terdiri dari 2 Pilot, 4 awak kabin dan 96 penumpang yang terdiri dari 85 orang dewasa, 7 anak-anak dan 4 orang balita. Pesawat PK-KKW itu, hilang dari pantauan radar pada ketinggian 35.000 kaki.Bayangkan, sebegitu banyak jasad manusia di dalamnya tidak ada satupun yang ditemukan. Pesawat memang dideteksi berada di kedalaman 2.000 meter dari permukaan laut. Dan, tidak ada peralatan canggih di Indonesia yang bisa mengangkut bangkai pesawat beserta isinya. Duka bagi keluarga yang ditinggalkan. Semoga ini bukan hanya peringatan bagi para perusahaan maskapai di Tanah Air. Tapi juga cambukan keras, bahwa bisnis di bidang ini tidak bisa main-main dan hanya sekadar mengeruk rupiah semata. Safety sangat dijunjung tinggi dalam bisnis yang satu ini. Pemerintah pun juga harus mengintropeksi dan tidak melulu menyalahkan maskapai. Sebab, bila regulasi yang diterapkan tidak tegas dan mengikat justru akan mempermudah para pebisnis maskapai mencuri-curi kebijakan untuk keuntungan. Rakyat selaku konsumen memang tak dapat bersuara lantang. Tapi, dengan kejadian dan temuan investigasi itu membuka mata semua pihak bahwa maskapai Indonesia perlu mendapatkan perhatian khusus. Penumpang juga jangan tergiur dengan harga tiket yang kelewat murah. Keselamatan adala segalanya ketika berada di udara. Semoga tidak terulang lagi kejadian yang sangat menakutkan. Maskapai oh maskapai...</description><content:encoded>MENGEJUTKAN! Temuan yang dikeluarkan Komisi Nasional Keselematan Transportasi (KNKT) soal penyebab hilangnya pesawat AdamAir dengan nomor registrasi penerbangan DHI 574. Kepingan pesawat sebesar 2 meter itu akhirnya ditemukan di perairan Majene, Sulawesi Barat, sembilan hari sejak hilang 1 Januari 2007.Hasil analisa Cockpit Voice Recorder (CVR) menyebutkan, kedua Pilot terlibat atau menghadapi problem navigasi. Kemudian, kedua pilot itu terfokus perhatiannya pada Trouble Shooting permasalahan Inertial Reference System (IRS). Setidaknya, perhatian yang tersita itu selama 13 menit terakhir penerbangan. Dengan perhatian minimal pada flight requirement lainnya.Autopilot pun tidak berfungsi setelah timbul kerusakan pada sistem navigasi. Nah, keduanya justru fokus untuk memeriksa dan sedikit mengutak-atik sistem navigasi tersebut. Tak terasa dan tidak disadari, pesawat kian detik semakin miring hingga 100 derajat.&amp;quot;Tidak terdapat tanda-tanda atau bukti bahwa kedua pilot dapat mengendalikan pesawat secara tepat dan seksama, sesudah peringatan bank angle berbunyi, ketika pesawat roll melewati 35 derajat bank ke kanan,&amp;quot; ujar Ketua KNKT Tatang Kurniadi.Pilot pun tidak sempat menaikkan pesawat karena posisi pesawat sudah miring. Akibatnya, pesawat menghujam laut dengan kecepatan 1.000 kilometer per jam. Byarrr..!! Pesawat &amp;quot;menabrak&amp;quot; laut. Saking kencangnya tumbukan yang terjadi, kepingan pesawat terbesar yang ditemukan pun hanya selebar 2 meter saja. Yang memilukan lagi, terdengar suara kata-kata terakhir pilot Revri Agustian Widodo kepada co-pilotnya Yoga. &amp;quot;Jangan dibelokin, jangan dibelokin,&amp;quot; setelah itu tak diketahui nasib pesawat AdamAir dan seluruh penumpangnya.Temuan ini memang sangat mengejutkan dan menghentakkan masyarakat, terutama yang kerap menggunakan jasa penerbangan. Pilot memang tidak bisa disalahkan dalam temuan KNKT. Human error juga belum bisa disimpulkan. Tapi, sampai kapan kondisi akan terus menghantui kancah penerbangan di Tanah Air. Memang menyakitkan, kalau dikatakan Uni Eropa masih keukeuh men-travel band bagi maskapai Indonesia. Tapi, apa mau dikata. Secara nyata memang demikian adanya. Kendati setiap tiga bulan sekali, Departemen Perhubungan terus merilis peringkat maskapai penerbangan. Tapi, tak juga ada perubahan. Pesawat AdamAir yang hilang itu berisi 102 penumpang. Mereka terdiri dari 2 Pilot, 4 awak kabin dan 96 penumpang yang terdiri dari 85 orang dewasa, 7 anak-anak dan 4 orang balita. Pesawat PK-KKW itu, hilang dari pantauan radar pada ketinggian 35.000 kaki.Bayangkan, sebegitu banyak jasad manusia di dalamnya tidak ada satupun yang ditemukan. Pesawat memang dideteksi berada di kedalaman 2.000 meter dari permukaan laut. Dan, tidak ada peralatan canggih di Indonesia yang bisa mengangkut bangkai pesawat beserta isinya. Duka bagi keluarga yang ditinggalkan. Semoga ini bukan hanya peringatan bagi para perusahaan maskapai di Tanah Air. Tapi juga cambukan keras, bahwa bisnis di bidang ini tidak bisa main-main dan hanya sekadar mengeruk rupiah semata. Safety sangat dijunjung tinggi dalam bisnis yang satu ini. Pemerintah pun juga harus mengintropeksi dan tidak melulu menyalahkan maskapai. Sebab, bila regulasi yang diterapkan tidak tegas dan mengikat justru akan mempermudah para pebisnis maskapai mencuri-curi kebijakan untuk keuntungan. Rakyat selaku konsumen memang tak dapat bersuara lantang. Tapi, dengan kejadian dan temuan investigasi itu membuka mata semua pihak bahwa maskapai Indonesia perlu mendapatkan perhatian khusus. Penumpang juga jangan tergiur dengan harga tiket yang kelewat murah. Keselamatan adala segalanya ketika berada di udara. Semoga tidak terulang lagi kejadian yang sangat menakutkan. Maskapai oh maskapai...</content:encoded></item></channel></rss>
