<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Geng Nero Dianggap Wujud Frustasi Anak</title><description>Geng Nero, geng perempuan di Pati yang menggegerkan masyarakat dengan aksi pengeroyokannya, dinilai muncul sebagai perwujudan rasa frustasi anak dalam melihat berbagai situasi kekerasan yang terjadi di sekitar mereka. </description><link>https://news.okezone.com/read/2008/06/17/1/119319/geng-nero-dianggap-wujud-frustasi-anak</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2008/06/17/1/119319/geng-nero-dianggap-wujud-frustasi-anak"/><item><title>Geng Nero Dianggap Wujud Frustasi Anak</title><link>https://news.okezone.com/read/2008/06/17/1/119319/geng-nero-dianggap-wujud-frustasi-anak</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2008/06/17/1/119319/geng-nero-dianggap-wujud-frustasi-anak</guid><pubDate>Selasa 17 Juni 2008 07:04 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://e.okezone.com/error.png" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://e.okezone.com/error.png</image><title></title></images><description>  JAKARTA - Geng Nero, geng perempuan di Pati yang menggegerkan masyarakat dengan aksi pengeroyokannya, dinilai muncul sebagai perwujudan rasa frustasi anak dalam melihat berbagai situasi kekerasan yang terjadi di sekitar mereka. &amp;quot;Disebut bentuk frustasi anak, karena para anggota geng tersebut ternyata masih termasuk usia sekolah alias masih duduk di bangku kelas satu SMA,&amp;quot;Â  ujar Sekjen Komnas Perlindungan Anak, Aris Merdeka Sirait, kepada okezone, Selasa (17/6/2008).  Â Kemungkinan, jelas Aris, anak-anak ini melihat dan meniru aksi kekerasan yang selama ini memang terjadi di mana-mana dan dipertontonkan secara vulgar.  Lingkungan sosial, sekolah, rumah, televisi, ataupun institusi, nyaris semuanya menyimpan unsur kekerasan, sehingga gadis-gadis muda tersebut pada akhirnya melihat kekerasan sebagai cara dan solusi yang wajar untuk menyelesaikan segala masalah.Â  &amp;quot;Bahkan sekolah pun menjadi ajang aksi bullying dan tawuran,&amp;quot; tukas Aris.  Dengan demikian, lanjut Aris, satu-satunya cara untuk menghindari munculnya geng-geng Nero yang lain adalah dengan meniadakan segala bentuk kekerasan.Â  Sekolah-sekolah diharuskan menyusun kurikulum dan program antikekerasan yang jelas.Â   Hal tersebut bahkan bisa dimulai dari soal-soal kecil yang kelihatan remeh-temeh, jarang diperhatikan, bahkan sering disepelekan.Â &amp;quot;Misalnya, jangan karena tidak mengerjakan PR, lantas anak dihukum keras atas nama kedisiplinan,&amp;quot; tukas Aris mengingatkan.    </description><content:encoded>  JAKARTA - Geng Nero, geng perempuan di Pati yang menggegerkan masyarakat dengan aksi pengeroyokannya, dinilai muncul sebagai perwujudan rasa frustasi anak dalam melihat berbagai situasi kekerasan yang terjadi di sekitar mereka. &amp;quot;Disebut bentuk frustasi anak, karena para anggota geng tersebut ternyata masih termasuk usia sekolah alias masih duduk di bangku kelas satu SMA,&amp;quot;Â  ujar Sekjen Komnas Perlindungan Anak, Aris Merdeka Sirait, kepada okezone, Selasa (17/6/2008).  Â Kemungkinan, jelas Aris, anak-anak ini melihat dan meniru aksi kekerasan yang selama ini memang terjadi di mana-mana dan dipertontonkan secara vulgar.  Lingkungan sosial, sekolah, rumah, televisi, ataupun institusi, nyaris semuanya menyimpan unsur kekerasan, sehingga gadis-gadis muda tersebut pada akhirnya melihat kekerasan sebagai cara dan solusi yang wajar untuk menyelesaikan segala masalah.Â  &amp;quot;Bahkan sekolah pun menjadi ajang aksi bullying dan tawuran,&amp;quot; tukas Aris.  Dengan demikian, lanjut Aris, satu-satunya cara untuk menghindari munculnya geng-geng Nero yang lain adalah dengan meniadakan segala bentuk kekerasan.Â  Sekolah-sekolah diharuskan menyusun kurikulum dan program antikekerasan yang jelas.Â   Hal tersebut bahkan bisa dimulai dari soal-soal kecil yang kelihatan remeh-temeh, jarang diperhatikan, bahkan sering disepelekan.Â &amp;quot;Misalnya, jangan karena tidak mengerjakan PR, lantas anak dihukum keras atas nama kedisiplinan,&amp;quot; tukas Aris mengingatkan.    </content:encoded></item></channel></rss>
