<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Nostalgia Mainan Tradisional di Tengah Serbuan PS</title><description>Panasnya terik matahari menyengat ubun-ubun namun tak mengurangi semangat anak-anak se-Sumatera saat mengikuti kompetisi permainan anak tradisional di halaman Museum Adytiawarman Sumatra Barat, Kota Padang. (7/7/2008)</description><link>https://news.okezone.com/read/2008/07/07/1/125379/nostalgia-mainan-tradisional-di-tengah-serbuan-ps</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2008/07/07/1/125379/nostalgia-mainan-tradisional-di-tengah-serbuan-ps"/><item><title>Nostalgia Mainan Tradisional di Tengah Serbuan PS</title><link>https://news.okezone.com/read/2008/07/07/1/125379/nostalgia-mainan-tradisional-di-tengah-serbuan-ps</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2008/07/07/1/125379/nostalgia-mainan-tradisional-di-tengah-serbuan-ps</guid><pubDate>Senin 07 Juli 2008 14:35 WIB</pubDate><dc:creator>Rus Akbar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2008/07/07/1/125379/1B3L4WKahj.jpg" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2008/07/07/1/125379/1B3L4WKahj.jpg</image><title></title></images><description>  PADANG - Panasnya terik matahari menyengat ubun-ubun namun tak mengurangi semangat anak-anak se-Sumatera saat mengikuti kompetisi permainan anak tradisional di halaman Museum Adytiawarman Sumatra Barat, Kota Padang. (7/7/2008)Terompa Galuak, Engrang, terompa panjang, itulah jenis  permainan anak yang diperlombakan dalam festifal permainan anak tradisional se-Sumatera Barat yang diselenggarakan 6-8 Juli. Farizal (41) warga Kampung Jua, Kecamatan Lubuk Bagalung, ikut bertadang ketempat itu menemani anaknya ikuti pertandingan yang dilombakan museum Adityawarman, sangat senang, tak hanya menemani sang anak tapi mengenang masa lalu waktu ia masih anak-anak.  Menurutnya permainan Egrang sangat menyenangkan dan itu menjadi mainan favoritnya, sewaktu ia berusia 14-15 tahun. Di kampungnya, ketika listrik belum masuk, ia bersama temananya sering membuat mainan engrang itu.   &amp;quot;Kami bermain itu saat bulan puasa, menjelang berbuka, kami bermainan untuk menunggu beduk Magrib sebagai tanda berbuka puasa, bahkan mau sholat tarawih memakai kaki kayu itu agar tidak terpijak kotoran, jadi sampai di Mesjid tidak perlu berwuduk lagi,&amp;quot; ujarnya dengan tawa.  Membawa engrang itu tidak mudah, jika tidak hati-hati maka akan terjatuh bahkan tersungkur, selama Farizal belajar menunggang engrang tersebut sudah tak terhitung berapa kali itu harus jatuh bahkan ia pernah jatuh kedalam sawah.  &amp;quot;Bagaimana lagi itu mainannya sangat asyik serta menantang nyali kita untuk menunggangi engrang tersebut,&amp;quot; katanya.  Ia menyayangkan saat ini dengan kemajuan teknologi anak saat ini, tidak lagi memainkan mainan tradisional, komputer dan Playstation menjadi mainan anak-anak. &amp;quot;Padahal mainan engrang tersebut juga sebagai olahraga dan bergaul akrab sesama teman-teman,&amp;quot; ujarnya.  Sementara Yoga Defrimarta (10) pada okezone mengatakan permainan ini sangat menyenangkan meski sedikit kaki saya sakit tapi sangat asyik &amp;quot;Untuk naik keatas engrang ini sangat susah perlu keseimbangan,&amp;quot; katanya sambil tertawa.  Ketua Panitia Festival Permainan Anak Tradisional  Se-Sumatera, Suardi menjelaskan perlombaan ini diadakan dalam rangka melestarikan budaya anak Nusantara serta menghidupkan kembali permainan anak tradisional ini.&amp;quot;Saat ini permainan tradisional tersebut sudah tidak ada lagi maka kami kembali menghidupkannya dengan cara perlombaan,&amp;quot; terangnya.Dalam perlombaan tersebut diikuti provinsi tetangga, Sumatra Utara, Riau, Bengkulu dan Jambi, perlombaan tersebut dibagi tiga jenis mainan, terompa galuak,  engrang, terompa panjang. Selain itu museum Adityawarman memamerkan permainan anak-anak seperti suling, gasing-gasing dan lain-lainnya.    </description><content:encoded>  PADANG - Panasnya terik matahari menyengat ubun-ubun namun tak mengurangi semangat anak-anak se-Sumatera saat mengikuti kompetisi permainan anak tradisional di halaman Museum Adytiawarman Sumatra Barat, Kota Padang. (7/7/2008)Terompa Galuak, Engrang, terompa panjang, itulah jenis  permainan anak yang diperlombakan dalam festifal permainan anak tradisional se-Sumatera Barat yang diselenggarakan 6-8 Juli. Farizal (41) warga Kampung Jua, Kecamatan Lubuk Bagalung, ikut bertadang ketempat itu menemani anaknya ikuti pertandingan yang dilombakan museum Adityawarman, sangat senang, tak hanya menemani sang anak tapi mengenang masa lalu waktu ia masih anak-anak.  Menurutnya permainan Egrang sangat menyenangkan dan itu menjadi mainan favoritnya, sewaktu ia berusia 14-15 tahun. Di kampungnya, ketika listrik belum masuk, ia bersama temananya sering membuat mainan engrang itu.   &amp;quot;Kami bermain itu saat bulan puasa, menjelang berbuka, kami bermainan untuk menunggu beduk Magrib sebagai tanda berbuka puasa, bahkan mau sholat tarawih memakai kaki kayu itu agar tidak terpijak kotoran, jadi sampai di Mesjid tidak perlu berwuduk lagi,&amp;quot; ujarnya dengan tawa.  Membawa engrang itu tidak mudah, jika tidak hati-hati maka akan terjatuh bahkan tersungkur, selama Farizal belajar menunggang engrang tersebut sudah tak terhitung berapa kali itu harus jatuh bahkan ia pernah jatuh kedalam sawah.  &amp;quot;Bagaimana lagi itu mainannya sangat asyik serta menantang nyali kita untuk menunggangi engrang tersebut,&amp;quot; katanya.  Ia menyayangkan saat ini dengan kemajuan teknologi anak saat ini, tidak lagi memainkan mainan tradisional, komputer dan Playstation menjadi mainan anak-anak. &amp;quot;Padahal mainan engrang tersebut juga sebagai olahraga dan bergaul akrab sesama teman-teman,&amp;quot; ujarnya.  Sementara Yoga Defrimarta (10) pada okezone mengatakan permainan ini sangat menyenangkan meski sedikit kaki saya sakit tapi sangat asyik &amp;quot;Untuk naik keatas engrang ini sangat susah perlu keseimbangan,&amp;quot; katanya sambil tertawa.  Ketua Panitia Festival Permainan Anak Tradisional  Se-Sumatera, Suardi menjelaskan perlombaan ini diadakan dalam rangka melestarikan budaya anak Nusantara serta menghidupkan kembali permainan anak tradisional ini.&amp;quot;Saat ini permainan tradisional tersebut sudah tidak ada lagi maka kami kembali menghidupkannya dengan cara perlombaan,&amp;quot; terangnya.Dalam perlombaan tersebut diikuti provinsi tetangga, Sumatra Utara, Riau, Bengkulu dan Jambi, perlombaan tersebut dibagi tiga jenis mainan, terompa galuak,  engrang, terompa panjang. Selain itu museum Adityawarman memamerkan permainan anak-anak seperti suling, gasing-gasing dan lain-lainnya.    </content:encoded></item></channel></rss>
