<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Penemu Padi Supertoy Hanya Lulusan STM</title><description>Penemu padi varietas Supertoy yang sempat menghebohkan dan kini menjadi bahan perbincangan nasional ternyata hanya lulusan Sekolah Teknik Menengah (STM) di Yogyakarta.</description><link>https://news.okezone.com/read/2008/09/07/1/143611/penemu-padi-supertoy-hanya-lulusan-stm</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2008/09/07/1/143611/penemu-padi-supertoy-hanya-lulusan-stm"/><item><title>Penemu Padi Supertoy Hanya Lulusan STM</title><link>https://news.okezone.com/read/2008/09/07/1/143611/penemu-padi-supertoy-hanya-lulusan-stm</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2008/09/07/1/143611/penemu-padi-supertoy-hanya-lulusan-stm</guid><pubDate>Minggu 07 September 2008 14:57 WIB</pubDate><dc:creator>Daru Waskita</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2008/09/07/1/143611/JCEF66Xvxa.jpg" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2008/09/07/1/143611/JCEF66Xvxa.jpg</image><title></title></images><description>BANTUL - Penemu padi varietas Supertoy yang sempat menghebohkan dan kini menjadi bahan perbincangan nasional ternyata hanya lulusan Sekolah Teknik Menengah (STM) di Yogyakarta.Basiran (70) orang tua Toyong mengatakan, Toyong, warga Dusun Demangan, Desa Gadingsari, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Â Riwayat pendidikan Toyong, kata Basiran, hanya sebatas lulusan Sekolah Teknik Menengah (STM) atau kini dikenal dengan Sekolah Menengah Kejuruan 2 Jetis Yogyakarta.&amp;quot;Supriyadi sekolah di SDN Rojoniten 2, Sanden. Melanjutkan ke SMPN 1 Sanden, lalu ke STM 2 Jetis Yogyakarta. Selama sekolah di STM, dia tidak kos. Tapi melaju dari rumah, padahal sangat jauh&amp;quot; kata Basiran, Minggu (7/9/2008).Basiran melanjutkan, untuk kata Tuyung (media menulis Toyong) nama sebutan untuk anaknya Supriyadi, berawal dari ketika kecil, anaknya itu kerap bermain di truk yang berisi pasir.Nah, saat bermain tersebut, Supriyadi sering menyebut kata, &amp;quot;turun...turun,&amp;quot; namun yang terucap adalah tuyun-tuyun. Sejak itulah Supriyadi di panggil tuyung oleh keluarga maupun teman-temannya bermain.Basiran menambahkan, semenjak menggeluti dunia pertanian dengan adanya laboratotium seluas 1,9 hektar yang merupakan milik Supriyadi tersebut, anaknya itu sudah jarang pulang ke rumah. Sehingga penelitian dan pengembangan tanaman pertanian dilakukan oleh asistennya dan pemuda disekitar rumah.&amp;quot;Sekarang dia lebih banyak tinggal di Jakarta dan tak pasti pulangnya. Terkadang sebulan sekali, itu pun tak tentu,&amp;quot; ujarnya.(enp)  </description><content:encoded>BANTUL - Penemu padi varietas Supertoy yang sempat menghebohkan dan kini menjadi bahan perbincangan nasional ternyata hanya lulusan Sekolah Teknik Menengah (STM) di Yogyakarta.Basiran (70) orang tua Toyong mengatakan, Toyong, warga Dusun Demangan, Desa Gadingsari, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Â Riwayat pendidikan Toyong, kata Basiran, hanya sebatas lulusan Sekolah Teknik Menengah (STM) atau kini dikenal dengan Sekolah Menengah Kejuruan 2 Jetis Yogyakarta.&amp;quot;Supriyadi sekolah di SDN Rojoniten 2, Sanden. Melanjutkan ke SMPN 1 Sanden, lalu ke STM 2 Jetis Yogyakarta. Selama sekolah di STM, dia tidak kos. Tapi melaju dari rumah, padahal sangat jauh&amp;quot; kata Basiran, Minggu (7/9/2008).Basiran melanjutkan, untuk kata Tuyung (media menulis Toyong) nama sebutan untuk anaknya Supriyadi, berawal dari ketika kecil, anaknya itu kerap bermain di truk yang berisi pasir.Nah, saat bermain tersebut, Supriyadi sering menyebut kata, &amp;quot;turun...turun,&amp;quot; namun yang terucap adalah tuyun-tuyun. Sejak itulah Supriyadi di panggil tuyung oleh keluarga maupun teman-temannya bermain.Basiran menambahkan, semenjak menggeluti dunia pertanian dengan adanya laboratotium seluas 1,9 hektar yang merupakan milik Supriyadi tersebut, anaknya itu sudah jarang pulang ke rumah. Sehingga penelitian dan pengembangan tanaman pertanian dilakukan oleh asistennya dan pemuda disekitar rumah.&amp;quot;Sekarang dia lebih banyak tinggal di Jakarta dan tak pasti pulangnya. Terkadang sebulan sekali, itu pun tak tentu,&amp;quot; ujarnya.(enp)  </content:encoded></item></channel></rss>
