<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Mengungkap Jati Diri Saudagar Syaikon (1)</title><description>H Syaikon Fikri dikenal sebagai sosok kaya raya yang suka mendermakan uangnya pada kaum duafa. Tapi siapa sebenarnya pengusaha kulit sapi ini, tak banyak tetangganya yang tahu. </description><link>https://news.okezone.com/read/2008/09/22/1/147993/mengungkap-jati-diri-saudagar-syaikon-1</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2008/09/22/1/147993/mengungkap-jati-diri-saudagar-syaikon-1"/><item><title>Mengungkap Jati Diri Saudagar Syaikon (1)</title><link>https://news.okezone.com/read/2008/09/22/1/147993/mengungkap-jati-diri-saudagar-syaikon-1</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2008/09/22/1/147993/mengungkap-jati-diri-saudagar-syaikon-1</guid><pubDate>Senin 22 September 2008 08:17 WIB</pubDate><dc:creator>Destyan Soejarwoko</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2008/09/22/1/147993/IG5TBgIaHY.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Rumah H Syaikon</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2008/09/22/1/147993/IG5TBgIaHY.jpg</image><title>Rumah H Syaikon</title></images><description>PASURUAN - H Syaikon Fikri dikenal sebagai sosok kaya raya yang suka mendermakan uangnya pada kaum duafa. Tapi siapa sebenarnya pengusaha kulit sapi ini, tak banyak tetangganya yang tahu.  Di Kota Pasuruan, nama H Syaikon Fikri bukanlah nama yang asing. Kekeyaannya yang melimpah ruah didukung oleh kegemarannya mendermakan uang menjadi nama suami Hj Hanifah ini sangat terkenal di seantero Kota hingga Kabupaten Pasuruan.   Sebagian warga miskin yang berada di luar daerah seperti dari wilayah Malang, Sidoarjo, dan Probolinggo bahkan tidak sedikit yang membincangkan nama H Syaikon. Apalagi jika mulai memasuki bulan suci Ramadan.  Maklumlah, pada bulan suci nan penuh berkah seperti sekarang adalah musim menanam amal sebanyak-banyaknya. Tidak terkecuali bagi keluarga H Syaikon Fikri. Saban Ramadan, di hari ke-15, pembagian zakat mal berupa uang tunai rutin digelarnya tiap tahun. Hj. Hanifah, istri Syaikon, pernah mengatakan bahwa tradisi itu telah mereka lakoni sejak tahun 1975.  Waktu itu mereka masih merupakan pasangan muda. Kelahiran anak pertama merekalah (Abdul Cholid alias Vivin) yang saat itu mendorong niatan beramal dengan cara membagi langsung sejumlah uang tunai pada masyarakat.   Tentu saja kondisi itu didukung oleh sumber daya ekonomi yang sangat mapan. Bisnis H Syaikon di bidang pengumpulan kulit ternak (khususnya sapi), telah banyak mendatangkan keuntungan berlimpah bagi keluarga yang saat ini tinggal di Jalan dr Wahidin Sudiro Husodo, Kelurahan Purutrejo, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan.  Tidak banyak penjelasan diperoleh berapa nominal uang yang disumbangkan saat pertama kali pembagian zakat mal secara massal ini dilakukan. Hanya menurut keterangan dari sejumlah warga, baik yang beberapa mengikuti pembagian zakat maupun para tetangga sekitarnya, dari tahun ke tahun selalu bertambah. Jika tahun lalu cuma Rp20 ribu, maka tahun ini dinaikan menjadi Rp30 ribu per-orang.   &amp;quot;Demikian juga pada tahun tahun sebelumnya. Pokoknya nilainya terus dinaikan dan itu sudah menjadi rahasia umum,&amp;quot; kata Ny Yudi Tulus (70) tetangga depan rumah H Syaikon di Jalan dr Wahidin Sudiro Husodo.  Tradisi itu, berlangsung terus-menerus. Hampir dilakukan saban tahun dengan mengambil momentum bulan suci Ramadan. Sifat penderma itu sepertinya tidak bisa lepas dari garis keluarga H Syaikon dan istrinya Hj Hanifah yang berasal dari kalangan priyayi santri.Â  Hj Hanifah merupakan kerabat kandung Ustad Yasin, salah satu tokoh agama yang disegani di Kota Pasuruan.  Demikian juga dengan H Syaikon Fikri. Cuma dari mana asal-usul resmi pria yang mendadak fenomenal karena menggelar kegiatan yang kemudian menjadi kontroversi ini, tidak banyak orang tahu. Setidaknya, beberapa tetangga di sekitar rumah pengusaha kulit ternak dan pengelola balai pelatihan ibadah haji (BPIH) ini mengaku tidak banyak tahu. Beberapa bilang, sosok tetangga mereka itu sangat tertutup.  Sosialisasi dengan warga sekitar hanya dilakukan saat salat berjamaah, mengaji ataupun saat ada undangan selamatan. Selain itu, keluarga H Syaikon lebih banyak menutup diri didalam rumah. Demikian juga dalam menggeluti usahanya. Baik yang berhubungan dengan bisnis pengumpulan kulit sapi ataupun usaha lain seperti jual-beli mobil, simpan-pinjam uang, usaha sarang burung walet ataupun dalam hal pengelolaan balai pelatihan ibadah haji.  &amp;quot;Kalau kami sih memadangnya baik. Orangnya juga baik. Cuma memang mereka orangnya tertutup. Jarang bertetangga kecuali ada kegiatan tertentu,&amp;quot; kata Dwi Cahyadi, putra Ny Yudi Tulus memberi gambaran.  Dilihat dari fisik rumahnya yang ada di Jalan dr Wahidin Sudiro Husodo, memang tidak terlalu menyolok. Dikatakan mewah juga tidak terlalu. Di kota/kabupaten Pasuruan, rumah yang jauh lebih bagus masih banyak. Tapi memang kekayaan seseorang tidak bisa diukur hanya melihat kondisi fisik bangunan yang dimilikinya.   Atau, memberi zakat mal dalam jumlah besar mungkin meang tidak harus berlatarbelakang kaya raya dalam pengertian warga megapolitan seperti Jakarta dan Surabaya. Karena yang lebih penting tentu adalah niat (untuk bersedekah) dan tentu saja kemauan untuk merealsiasikan.  &amp;quot;Adalah kewajiban setiap umat muslim untuk mensedekahkan 2,5 persen kekayaan yang dimilikinya kepada warga yang tidak mampu. Niat dan tuntunan agama itulah yang selama ini kami jalankan rutin saban bulan suci Ramadan hari ke 15,&amp;quot; kata Hj. Hanifah, istri H Syaikon dalam sebuah kesempatan berbincang dengan Sindo beberapa waktu lalu.   Pada tahun 2007 kemarin, lanjut Hj Hanifah, nominal uang yang dizakatkan pada warga tidak mampu serta sanak famili jumlahnya mencapai Rp250 juta. Â   Konon, tahun ini, saat digelarnya kegiatan zakat mal Senin (15/9), H Syaikon Fikri telah menyiapkan uang untuk dibagi-bagikan pada warga sebanyak Rp500 juta.   &amp;quot;Tidak sekaligus. Rencananya akan kami bagi secara bertahap dalam empat hari kedepan,&amp;quot; kata Hj Hanifah saat itu.  Terlepas dari semua itu, pengakuan Hj hanifah menunjukan bahwa penghasilan keluarga pengusaha kulit ternak sapi dan pembina jamaah haji kota/kabuapten Pasuruan ini memang berlimpah. Bagaimana tidak, jika uang yang akan dizakatkan sebesar Rp500 juta tersebut diasumsikan hanya 2,5 persen dari kekayaan, bisa dibayangkan berapa timbunan uang yang masih disimpan oleh H Syaikon Fikri dan keluarganya.(bersambung)    </description><content:encoded>PASURUAN - H Syaikon Fikri dikenal sebagai sosok kaya raya yang suka mendermakan uangnya pada kaum duafa. Tapi siapa sebenarnya pengusaha kulit sapi ini, tak banyak tetangganya yang tahu.  Di Kota Pasuruan, nama H Syaikon Fikri bukanlah nama yang asing. Kekeyaannya yang melimpah ruah didukung oleh kegemarannya mendermakan uang menjadi nama suami Hj Hanifah ini sangat terkenal di seantero Kota hingga Kabupaten Pasuruan.   Sebagian warga miskin yang berada di luar daerah seperti dari wilayah Malang, Sidoarjo, dan Probolinggo bahkan tidak sedikit yang membincangkan nama H Syaikon. Apalagi jika mulai memasuki bulan suci Ramadan.  Maklumlah, pada bulan suci nan penuh berkah seperti sekarang adalah musim menanam amal sebanyak-banyaknya. Tidak terkecuali bagi keluarga H Syaikon Fikri. Saban Ramadan, di hari ke-15, pembagian zakat mal berupa uang tunai rutin digelarnya tiap tahun. Hj. Hanifah, istri Syaikon, pernah mengatakan bahwa tradisi itu telah mereka lakoni sejak tahun 1975.  Waktu itu mereka masih merupakan pasangan muda. Kelahiran anak pertama merekalah (Abdul Cholid alias Vivin) yang saat itu mendorong niatan beramal dengan cara membagi langsung sejumlah uang tunai pada masyarakat.   Tentu saja kondisi itu didukung oleh sumber daya ekonomi yang sangat mapan. Bisnis H Syaikon di bidang pengumpulan kulit ternak (khususnya sapi), telah banyak mendatangkan keuntungan berlimpah bagi keluarga yang saat ini tinggal di Jalan dr Wahidin Sudiro Husodo, Kelurahan Purutrejo, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan.  Tidak banyak penjelasan diperoleh berapa nominal uang yang disumbangkan saat pertama kali pembagian zakat mal secara massal ini dilakukan. Hanya menurut keterangan dari sejumlah warga, baik yang beberapa mengikuti pembagian zakat maupun para tetangga sekitarnya, dari tahun ke tahun selalu bertambah. Jika tahun lalu cuma Rp20 ribu, maka tahun ini dinaikan menjadi Rp30 ribu per-orang.   &amp;quot;Demikian juga pada tahun tahun sebelumnya. Pokoknya nilainya terus dinaikan dan itu sudah menjadi rahasia umum,&amp;quot; kata Ny Yudi Tulus (70) tetangga depan rumah H Syaikon di Jalan dr Wahidin Sudiro Husodo.  Tradisi itu, berlangsung terus-menerus. Hampir dilakukan saban tahun dengan mengambil momentum bulan suci Ramadan. Sifat penderma itu sepertinya tidak bisa lepas dari garis keluarga H Syaikon dan istrinya Hj Hanifah yang berasal dari kalangan priyayi santri.Â  Hj Hanifah merupakan kerabat kandung Ustad Yasin, salah satu tokoh agama yang disegani di Kota Pasuruan.  Demikian juga dengan H Syaikon Fikri. Cuma dari mana asal-usul resmi pria yang mendadak fenomenal karena menggelar kegiatan yang kemudian menjadi kontroversi ini, tidak banyak orang tahu. Setidaknya, beberapa tetangga di sekitar rumah pengusaha kulit ternak dan pengelola balai pelatihan ibadah haji (BPIH) ini mengaku tidak banyak tahu. Beberapa bilang, sosok tetangga mereka itu sangat tertutup.  Sosialisasi dengan warga sekitar hanya dilakukan saat salat berjamaah, mengaji ataupun saat ada undangan selamatan. Selain itu, keluarga H Syaikon lebih banyak menutup diri didalam rumah. Demikian juga dalam menggeluti usahanya. Baik yang berhubungan dengan bisnis pengumpulan kulit sapi ataupun usaha lain seperti jual-beli mobil, simpan-pinjam uang, usaha sarang burung walet ataupun dalam hal pengelolaan balai pelatihan ibadah haji.  &amp;quot;Kalau kami sih memadangnya baik. Orangnya juga baik. Cuma memang mereka orangnya tertutup. Jarang bertetangga kecuali ada kegiatan tertentu,&amp;quot; kata Dwi Cahyadi, putra Ny Yudi Tulus memberi gambaran.  Dilihat dari fisik rumahnya yang ada di Jalan dr Wahidin Sudiro Husodo, memang tidak terlalu menyolok. Dikatakan mewah juga tidak terlalu. Di kota/kabupaten Pasuruan, rumah yang jauh lebih bagus masih banyak. Tapi memang kekayaan seseorang tidak bisa diukur hanya melihat kondisi fisik bangunan yang dimilikinya.   Atau, memberi zakat mal dalam jumlah besar mungkin meang tidak harus berlatarbelakang kaya raya dalam pengertian warga megapolitan seperti Jakarta dan Surabaya. Karena yang lebih penting tentu adalah niat (untuk bersedekah) dan tentu saja kemauan untuk merealsiasikan.  &amp;quot;Adalah kewajiban setiap umat muslim untuk mensedekahkan 2,5 persen kekayaan yang dimilikinya kepada warga yang tidak mampu. Niat dan tuntunan agama itulah yang selama ini kami jalankan rutin saban bulan suci Ramadan hari ke 15,&amp;quot; kata Hj. Hanifah, istri H Syaikon dalam sebuah kesempatan berbincang dengan Sindo beberapa waktu lalu.   Pada tahun 2007 kemarin, lanjut Hj Hanifah, nominal uang yang dizakatkan pada warga tidak mampu serta sanak famili jumlahnya mencapai Rp250 juta. Â   Konon, tahun ini, saat digelarnya kegiatan zakat mal Senin (15/9), H Syaikon Fikri telah menyiapkan uang untuk dibagi-bagikan pada warga sebanyak Rp500 juta.   &amp;quot;Tidak sekaligus. Rencananya akan kami bagi secara bertahap dalam empat hari kedepan,&amp;quot; kata Hj Hanifah saat itu.  Terlepas dari semua itu, pengakuan Hj hanifah menunjukan bahwa penghasilan keluarga pengusaha kulit ternak sapi dan pembina jamaah haji kota/kabuapten Pasuruan ini memang berlimpah. Bagaimana tidak, jika uang yang akan dizakatkan sebesar Rp500 juta tersebut diasumsikan hanya 2,5 persen dari kekayaan, bisa dibayangkan berapa timbunan uang yang masih disimpan oleh H Syaikon Fikri dan keluarganya.(bersambung)    </content:encoded></item></channel></rss>
